cool hit counter

PWM Jawa Barat - Persyarikatan Muhammadiyah

 PWM Jawa Barat
.: Home > PEMUDA MUHAMMADIYAH

Homepage

PEMUDA MUHAMMADIYAH



Sejarah Perkembangan Pemuda  Muhammadiyah di  Jawa Barat

 

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, sebagai organisasi otonom keorganisasiannya pada awalnya belum tertata secara tertib seperti sekarang ini. Mengalami pasang surut, dengan bermula dibentuk di kota Garut, pada tahun 1936.  

Empat tahun setelah keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-12 di Makassar, yang memutuskan dibentuknya Ortom Pemuda Muhammadiyah. Maka perkembangan Pemuda Muhammadiyah tumbuh seriring pertumbuhan dan perkembangan gerakan  Muhammadiyah itu sendiri.

Ketika itu Indonesia masih dalam belenggu kolonial Belanda, dan Enam (6) tahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda berganti dengan kedatangan balatentara Jepang (1942), dimana pada saat itu kebijakan pemerintahan pendudukan Jepang disatu sisi membutuhkan rakyat, khususnya kalangan pemuda untuk menjadi pasukan menghadapi pasukan sekutu, tetapi di sisi lain mereka menjalankan aturan yang ketat untuk mengontrol setiap perkumpulan atau gerakan rakyat, termasuk pemuda.

Pada masa ini gerakan dakwah Muhammadiyah termasuk mengalami tantangan dan kesulitan, bahkan diharuskan menutup setiap kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa.  Pengajian-pengajian Muhammadiyah mendapat pengawasan tentara Jepang, hanya sekolah dan panti asuhan yang dibolehkan aktif.  

Selain itu dinamika sosial dan kebangsaan sejak memasuki era 1945-1965, selama 20 tahun mengalami pasang surut, dan mempengaruhi dinamika gerakan Muhammadiyah, yang tentu saja berdampak terhadap kiprah gerakan Pemuda Muhammadiyah, selaku salah satu organisasi otonomnya.

Dalam kondisi Pemuda Muhammadiyah di Jawa Barat yang masih belia dan mengalami pasang-surut, upaya-upaya membangun Pemuda Muhammadiyah terus dilakukan,  salahsatunya pada tanggal 1 Oktober 1954, Pemuda Muhammadiyah Garut dibentuk dengan Ketuanya Ma’mun Syamsuddin, yang mendapat pengesahan resmi dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta pada tanggal 14 September 1955 dengan status sebagai Pimpinan Cabang.  

Empat tahun berikutnya, tahun 1958, di Garut diselenggarakan Konperensi Pemuda Muhammadiyah, pada saat itu muncul kembali wacana pembentukan organisasi pelajar Muhammadiyah, yang sejak tahun 1919 tidak banyak dibicarakan lagi. Realisasi dari Konperensi Pemuda Muhammadiyah ini ditindaklanjuti dalam Muktamar Pemuda Muhammadiyah II di Yogyakarta (1960) yang memutuskan membentuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Kemudian dimatangkan lagi dengan Konperensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta tahun 1961 sehingga terpilih Ketua, Hermawan Helimi Farid dan Sekretaris, Muh. Wirsyam Hasan.  

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di kota Bandung kiprah Pemuda Muhammadiyah bergairah dan terbentuk, dimana pemuda Muhdiat, Juhudiat dan lain-lainnya merupakan salah satu kader Pemuda yang mendapat bimbingan dari orang tua (Muhammadiyah) seperti Khaidar Anwar, Machmud Yunus dan  Muchtar Nur untuk membentuk Pemuda Muhammadiyah.   

Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, kelahiran dan perkembangan Pemuda Muhammadiyah sedikit banyak dipengaruhi oleh dinamika gerakan Muhammadiyah. Termasuk dalam perkembangan secara struktural organisasinya, dipengaruhi  oleh perkembangan struktur Muhammadiyah. Jika Muhammadiyah terdiri dari groep (ranting), cabang dan daerah, maka Pemuda Muhammadiyah pun ada dalam tingkatan tersebut (ranting, cabang dan daerah).

Semenjak berdiri Pemuda Muhammadiyah tingkat pusat tahun 1932, dan kemudian di Jawa Barat berdiri cabang Pemuda Muhammadiyah Garut tahun 1936, maka Pemuda Muhammadiyah waktu itu baru memiliki struktur kepengurusan pada tingkat ranting, cabang dan daerah.

Sementara untuk tingkat provinsi, belum terbentuk kepengurusan secara structural, sebab pada saat ini, Muhammadiyah pun belum memiliki struktur kepengurusan sampai tingkat wilayah (propinsi), dimana dari kepengurusan tingkat karesidenan   langsung ke tingkat pusat (nasional).

Maka tak mengheranka, jika Pimpinan Pemuda Muhammadiyah tingkat Wilayah Jawa Barat (PWPM), belum dikenal sampai tahun 1966, karena kegiatan pemuda Muhammadiyah masih dalam tingkat cabang.

Geliat Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, tampak kepermukaan, ketika diselenggarkan Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-3 yang berlangsung di kota  Garut pada 24-28 Juli 1963. Acara Muktamar berlangsung di Gedung Nasional. Selain Agenda Muktamar Pemuda Muhammadiyah, juga terselip acara tambahan Musyawarah PSHWI (Persatuan Sepakbola Hizbul Wathan Indonesia)  dan peresmian Masjid Muhammadiyah Lio yang baru direhab serta digelar pertandingan Sepakbola antara PSHWI, Pemuda Muhammadiyah dan beberapa klub sepakbola terkenal di Stadion Jayaraga. Diantara panitia yang paling berjasa dalam perhelatan tingkat nasional ini, ditingkat pusat diketuai oleh Azan Syarbini dan Sekretarisnya, Moh. Aslan. Sedangkan panitia lokal adalah Ma’mun Syamsuddin (Ketua) dan Sekretarisnya, Moh. Miskun (perintis Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut).  Tak terlupakan bahwa dalam Muktamar Pemuda ini dihadiri pula oleh  ulama terkenal Buya Hamka, sebagai Penasehat PP Muhammadiyah.  

Oleh Karena prestasi kepemimpinan Ma’mun Syamsuddin di Pemuda Muhammadiyah Garut cukup mumpuni, maka dia dipercaya memegang amanah kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Daerah Priangan untuk tahun 1963-1965, yang wilayah kerjanya meliputi beberapa kabupaten di Priangan.  

Periodisasi Kepengurusan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat 

1. Tahun 1966-1973 Faisal Leboe

Sejak adanya perubahan struktur organisasi dalam tubuh Muhammadiyah, maka struktur organisasi Pemuda Muhammadiyah pun mengalami perubahan. Sehingga untuk Pimpinan Cabang yang semula setara daerah kota/kabupaten menjadi setara kecamatan. Sedangkan pimpinan yang setara kota/kabupaten menjadi Pimpinan Daerah. Untuk yang setara tingkat Karesidenan, dihilangkan. Adapun yang setara tingkat Propinsi yang sebelumnya disebut Konsul (untuk di Muhammadiyah), maka menjadi Pimpinan Wilayah.

Namun demikian dalam prakteknya di lapangan hasil Keputusan Muktamar Muhammadiyah Bandung Juli 1965, tidak bisa langsung secara lancar terwujudkan dalam restrukturisasi organisasi Muhammmadiyah tersebut. Butuh kesiapan sosialiasi dan kesiapan sumber daya manusia di dalamnya.

Pada periode ini Pemuda Muhammadiyah Wilayah dipimpin Ketuanya oleh Faisal Leboe. Ketua 1, M Yaris Rusli. Dan Ketua 2, Muhdiat. Pada periode ini Muhdiat merangkap sebagai Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung. Sejak ini masa periode kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah itu berlangsung 3 tahun. Jadi pada periode 1 ini, Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Wilayah  Jawa Barat berlangsung dari tahun 1966-1968.

Pada periode ini kegiatan-kegiatannya adalah pembinaan-pembinaan perkaderan seperti lewat pengajian-pengajian.  Meskipun sudah terbentuk kepemimpinan secara strukturan, namun dalam prakteknya belum seperti sekarang tertata secara tertib administrasi yang rapih. Masih dalam proses transisi (penyesuaian atas perubahan).

Kegiatan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat pada paruh kedua tahun 1960-an ini dipengaruhi situasi sosial politik nasional yang sangat jelas berpengaruh pada situasi sosial politik dan kebijakan pemerintah di bawahnya (provinsi Jawa Barat).

Situasi hubungan pemerintah dengan umat Islam yang ketika itu mendukung pemerintahan transisi orde lama menuju orde baru, berpengaruh juga pada situasi stabilitas kegiatan Muhammadiyah dan ortomnya.

Dalam situasi kebijakan pemerintahan orde baru yang demikian, periode kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dalam kurun tahun 1966-1973 kiprahnya dalam aspek keumatan/kebangsaan terbatas. Pemuda Muhammadiyah lebih bisa berkiprah dalam konteks persyarikatan, dan membina secara internal kader-kadernya. Dengan pola pembinaan pengkaderan pun yang bersifat kultural. Belum secara formil seperti sekarang ini.

Meskipun demikian pola pembinaan kader Pemuda Muhammadiyah seperti demikian memiliki keunggulan tersendiri. Yaitu terjalinnya komunikasi yang hangat antara sesama anggota pemuda dan juga komunikasi yang hangat dengan orang tua (Muhammadiyah). Suasana pembinaan yang akrab secara kekeluargaan, layaknya antara anak dengan bapak. Suasana demikian terus bertahan hingga di periode setelahnya juga.

Demikian, dalam prakteknya di lapangan, penataan Pemuda Muhammadiyah dari pola lama Konsul Muhammadiyah menjadi Wilayah belum bisa direalisasikan. Bahkan sampai tahun 1971/1972. Pemuda Muhammadiyah masih kegiatannya bersifat pembinaan internal belum tertata secara organisasi seperti sekarang.

Keterbatasan sumber daya manusianya. Dan keterbatasan kemampuan serta fasilitas yang ada, seperti belum memiliki kantor sendiri. Mengakibatkan kegiatan dan pertemuan atau rapat itu sering kali di lakukan dimana ketuanya berada. Ini pun bukan saja di Pemuda Muhammadiyah. Tetapi pula Muhammadiyah pun masih seperti itu.

Selain itu tantangan ekternal, Pemuda Muhammadiyah periode ini pun seperti dihadapi organisasi lainnya, berada pada situasi krisis pasca peristiwa G30S/PKI. Kemudian dihadapkan pada situasi kebijakan pemerintah orde baru yang lambat-laut mengarah ke represip.

Sehingga Pemuda Muhammadiyah  dalam kiprah kegiatannya masih menguatkan kondisi internal eperti pembinaan kader. Belum bisa berkiprah untuk pemberdayaan atau menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat seperti sekarang.. Memasuki tahun 1970 kepengurusan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat beralih pada M. Yaris Rusli. Ketua periode ini berasal berasal dari Padang (Sumatera Barat). Adapun Muhdiat tetap menjadi wakil ketua sebagaimana periode sebelumnya. Pada masa ini peralihan kepemimpinan masih secara bergilir.  

Ini menunjukan bahwa sistem keorganisasian secara formal di kalangan Pemuda waktu itu masih belum seperti sekarang. Karena kondisi sumber daya manusia pun masih terbatas. Rupanya baru pada periode berikutnya (1973-1977) Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, terbentuk secara lebih rapih. Dalam arti mengalami proses Musyawarah yang terselenggara secara resmi (formil).

Kegiatan-kegiatan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat periode ini pun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih bersifat sederhana dengan kegiatan-kegiatan pembinaan kekaderan dalam bentuk pengajian-pengajian pembinaan.

Ini wajar, karena untuk Muhammadiyah tingkat Wilayah Jawa Barat pun saat itu masih mengalami masa transisi perubahan struktur keorganisasian secara perlahan. Maka pantas jika Pemuda Muhammadiyah pun kemudian tidak bisa serta-merta terbentuk penataan organisasi secara rapih sebagaimana hasil Muktamar tersebut. Sehingga wajar jika antara tahun 1966 sampai awal tahun 1970-an kondisinya masih dalam proses peralihan atau perubahan dalam hal penataan organisasi secara perlahan.

Pada periode ini kegiatan lebih terfokus pada perkaderan. Waktu ini diadakan majelis bimbingan Pemuda Muhammadiyah atau AMM. Kegiatan-kegiatan bersifat periodik mengadakan perkaderan. Biasanya diadakan di tiap daerah seperti di Bandung, Garut dll. Rata-rata diadakan satu kali kegiatan dalam setahun atau dua kali dalam setahun.

Kegiatan pertemuan AMM, seperti Pemuda, NA, IMM dan IPM diadakan secara periodik. Ketika itu pemuda suka memberikan masukan (kalau ada masalah), memberikan masukan kepada orangtua (Muhammadiyah).

Ini menunjukan adanya suasana psikologi keakraban komunikasi antara kalangan muda dengan kalangan tua. Kegiatan pembinaan anggota Pemuda Muhammadiyah secara internal pada kader-kadernya itu menjadi kegiatan rutin pada periode ini. Dengan pola pembinaan pengkaderan bersifat cultural seperti periode  sebelumnya ini berdampak positip. Yakni terjalinnya komunikasi yang akrab diantara sesama anggota pemuda dan juga komunikasi yang hangat dengan orang tua (Muhammadiyah).

Suasana komunikasi dan silaturahim yang tidak dibuat-buat. Suasana keakraban yang bukan karena kepentingan sesaat. Tapi karena memang itulah yang diajarkan oleh agama dan dicontohkan orang tua kita (Muhammadiyah).  

Kedekatan Pemuda Muhammadiyah dengan orang tua (Muhammadiyah) pun semakin akrab terlebih situasi sosial politik kebijakan pemerintah orde baru mengakibatkan para pimpinan Muhammadiyah untuk berkonsentrasi pada pengelolaan persyarikatan Muhammadiyah.

Terutama setelah muncul keputusan Muktamar di Ponorogo (1970) yang dikenal dengan Muhammadiyah kembali kepada Khittah perjuangannya, yaitu sebagai Gerakan Dakwah, yang menjaga jarak yang sama kepada partai politik.

Artinya Muhammadiyah tidak terlibat langsung dalam politik praktis, seperti sebelumnya yang sempat amat dekat dengan partai Masyumi. Yang bukan sekedar kader-kader/pimpinannya memasuki partai Masyumi, tapi Muhammadiyah secara resmi menjadi anggota Istimewa Masyumi. Karena sejak awal pendirian Masyumi 7-8 November 1945 kader Pimpinan Muhammadiyah banyak menjadi pelopornya. Bahkan pendirian Masyumi ini dilakukan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, dalam Kongres Muslimin Indonesia.

Upaya rehabilitasi Masyumi di masa orde baru, yang tidak disetujui pemerintah orde baru sempat menimbulkan kekecewaan kalangan Muhammadiyah pula. Yang kemudian melahirkan partai Islam Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), lagi-lagi, Partai ini pun tidak direstui jika dipimpinan kalangan mantan pimpinan Masyumi. Maka  akhirnya Ketuanya disepakati Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun. Ini pun ternyata masih dikhawatirkan pemerintahan orde baru. Maka terjadilah intrik politik, Parmusi kepemimpinannya digeserkan oleh J.Naro, orang yang dekat dengan pemerintahan orde baru.

Hal ini mengingatkan kembali memori para pemimpin Muhammadiyah, bahwa lapangan perjuangan Muhammadiyah tidak dalam politik praktis.

Terlebih bila menelaah sikap dan strategi gerakan pendirinya. KH Ahmad Dahlan, beliau ini tidak pernah menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik praktis. Muhammadiyah hanya sebagai organisasi gerakan dakwah sosial dan pendidikan, tetapi walaupun demikian para pengurusnya tidak buta politik. Kalau pun kader-kadernya berkiprah politik praktis itu lapangannya di luar Muhammadiyah. Inilah latarbelakang kembalinya Muhammadiyah pada Khittah Perjuangan Awal yang dinyatakan dalam Muktamar di Ponorogo tahun 1970.

Situasi begini mempengaruhi situasi dan kebijakan kegiatan para Pemuda Muhammadiyah di Jawa Barat. Mereka masih tetap melakukan kegiatan pertemuan silaturahim pembinaan kader/anggota. Juga pertemuan pembinaan pimpinan seperti yang suka diadakan di rumahnya Pak Fajar, di kawasan Dago.

Pada masa ini Pemuda Muhammadiyah tidak masuk ke politik praktis seperti Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), yang waktu itu Ketuanya adalah Haji Djarnawi Hadikusumo. Meskipun waktu itu Haji Adang Affandi memberikan tugas kepada Pemuda Wilayah untuk mendatangi/menjajaki kebersamaan dengan kalangan Persis, PUI dan lain-lain. Pada masa ini salahsatu dari kalangan Persis, Rusyad Nurdin (Ketua I PP Persis) tampil menjadi Ketua Parmusi Jawa Barat. Karena upaya yang dilakukan pemuda ini hanya menyerap informasi yang hasilnya kemudian disampaian kepada Majelis Hikmah Muhammadiyah yang ketika itu dipimpin oleh Kamawidjaya dan Sihabuddin.

Dalam situasi seperti inilah periode 1970-1973 Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat menjalankan  amanah kepemimpinannya, dengan Ketuanya Yaris Rusli. Dengan dukungan kalangan Sumberdaya manusia kalangan pemuda yang masih terbatas jumlahnya, belum banyak berkembang seperti sekarang.  

Keterbatasan sumber daya manusia di masa transisi dalam penataan struktur organisasi Muhammadiyah yang membutuhkan waktu pasca Muktamar Muhammadiyah 1965, dalam kurun waktu  5 tahun kiprah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat tingkat perkembangannya belum seperti sekarang. Ruang gerak dan kiprahnya pun masih terbatas. Dan lebih banyak bersifat pembinaan internal anggota serta pembinaan pimpinan secara kultural. Bahkan kegiatan-kegiatan Pemuda Muhammadiyah masih banyak yang dilakukan bersama dengan Muhammadiyah. Hal ini sangat wajar, karena keterbatasan sarana pra-sarana pun turut mempengaruhinya.

Di balik keterbatasan dan kekurangannya ini, ada keunggulannya. Yaitu suasana kultural dalam silaturahim membuat kedekatan hati dan keakraban antara kalangan Pemuda Muhammadiyah dengan Muhammadiyah atau pun dengan Aisyah. Sehingga Pemuda Muhammadiyah dengan Muhammadiyah dan Aisyiyah seperti hubungan komunikasi dalam sebuah keluarga.

2. Tahun 1973-1977  H. M. Muhdiat

Pada periode ini, Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat baru dalam tahapan awal perubahan struktur organisasi yang sebelumnya. Tahap penertiban secara struktur organisasi dan penataan kegiatan-kegiatan. Sebelumnya masih bersifat temporer, belum tersusun program secara rapih. Artinya masih bersifat “tradisional”.

Susunan Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat periode ini, Ketua: MA Muhdiat, Wakil Ketua, Uud Sudjita, Sekretaris: Kafi, Wakil Sekretaris: Suwandoyo Sidik, Bendahara: Rahmat Sambas. Dan juga Wakil Ketua lainnya adalah: Tajuli (putera HM Fadjri)  dan Tabri Akma.

MA Muhdiat pada saat ini merangkap pula dengan Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PMD) kota Bandung. Sedangkan Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Daerah kota Bandung pada periode ini, Ketuanya Tjutju Sachrum.  

Kegiatan-kegiatan Periode Tahun 1973-1977 

Sentral kegiatan seluruh Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah pada waktu ini diadakan di Panti Asuhan, yang sekarang menjadi lokasi Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung (RSMB) jalan Banteng. Karena pada waktu itu Masjid Mujahidin masih dalam wujud rangka bangunan, yang peletakan batu pertamanya tahun 1956. Baru bisa digunakan shalat berjamaah dan shalat Jum’atan saja. Dan Masjid Mujahidin ini baru bisa selesai tahun 1991, pada masa kepemimpinan KH Sulaeman Faruq. Salahsatu satunya perkembangan pembangunan Masjid Mujahidin ini tidak lepas dari jasa bantuan Haji Arifin. Selain di Panti Asuhan, Jalan Banteng, kegiatan Muhammadiyah pun suka dilakukan di jalan Mangunsarkoro ( kini jalan Lodaya). Karena di sinilah tempat Pimpinannya, karena pada masa ini biasanya kantor kegiatan itu mengikuti di mana ketua terpilihnya yang memimpinnya, di sanalah di pasang plang (papan nama) kantor. Ini menunjukan bahwa Muhammadiyah belum memiliki fasilitas kantor yang representatip untuk saat itu. Belum seperti sekarang ini.

Pada periode ini kegiatan Pemuda Muhammadiyah, masih sering bersatu dengan kegiatan Muhammadiyah. Meskipun Pemuda Muhammadiyah itu organisasi otonom. Karena pada saat itu meskipun keputusan Muktamar Muhammadiyah di Bandung (1965) menghasilkan restrukturisasi organisasi Muhammadiyah sehingga lebih tertata lagi secara organisatoris, tetapi realita perwujudan di lapangan tidak bisa serta merta.

Maka dengan demikian, perkembangan Pemuda Muhammadiyah pun tidak serta merta cepat berkembang. Karena pola perkembangan ortom termasuk Pemuda Muhammadiyah, mengikuti perkembangan indunya  (Muhammadiyah). Meskipun demikian, kegiatan-kegiatan Pemuda Muhammadiyah tetap bisa dijalankan, hanya bentuk kegiatannya lebih terfokus pada pembinaan internal (kekaderan). Bagaimana menumbuh-kembangkan potensi kader sehingga bisa berkiprah dalam membangun Persyarikatan.

Dalam konteks keumatan dan kebangsaan, sesungguhnya Pemuda Muhammadiyah pun melakukan kegiatan yang bersifat respons atas situasi sosial yang berkembang. Misalnya ketika terjadi peralihan kebijakan pemerintah, yang semula kebijakan pemerintahan orde lama kepada orde baru.

Pasca keputusan Muktamar Ponorogo 1970, yang menyatakan Muhammadiyah Kembali ke Khittahnya sebagai Gerakan Dakwah dan menjaga jarak yang sama ke semua partai politik. Keputusan ini menjadi pedoman kalangan pimpinan dan anggota Muhammadiyah, termasuk Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat dalam menjalankan kegiatannya.

Pada periode yang dipimpin oleh Muhdiat ini, pemerintahan di provinsi Jawa Barat masih gubernurnya Solihin GP.  Periode di masa kepemimpinan HM Muhdiat, Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat. Dianggap sebagai tonggak awal penataan Pemuda Muhammadiyah. Meskipun pada periode ini pun Pemuda Muhammadiyah dalam kiprah kegiatannya masih bersifat pembinaan secara konvensional,  kegiatan bersifat internal, kegiatan pembinaan pengajian-pengajian dan kegiatan kepemudaan lainnya. Tetapi bisa dikatakan periode ini sebagai awal penataan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, karena proses menentukan kepemimpinannya sudah melalui mekanisme permusyawarahan.

Sedangkan sebelumnya, Pimpinan Pemuda Muhammadiyah seolah-olah masih dibentuk (ditunjuk) oleh Pimpinan Wilayah. Sehingga bisa dikatakan mulai cikal-bakal tertib organisasi itu pembenahannya di mulai periode ini. Awal perubahan struktur organisasi yang sebelumnya. Tahap penertiban secara struktur organisasi dan penataan kegiatan-kegiatan. Sebelumnya masih bersifat temporer, belum tersusun program secara rapih seperti sekarang.

3. Tahun 1977-1981 H.M.S. Hasan Syarif

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pada masa kepemimpinan Hasan Syarif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat mengembangkan hobi di kalangan para pemuda. Misalnya mengadakan perlombaan sepakbola, dengan terbentuknya PSHW. Juga kegiatan pembinaan tabligh. Kegiatan lainnya berupa  kaderisasi pelajar serta kegiatan yang menjaga keseimbangan internal dan eksternal. (wawancara dengan HMS Hasan Syarif, 5 Oktober 2009).

Periode ini Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dipimpin Hasan Syarif. Seorang pemuda yang sebelumnya menjadi Pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Barat.  Pada masa ini Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan kebijakan pemerintah orde baru yang tampaknya berupaya memenangkan Golkar sebagai partai pemerintah. Situasi demikian menimbulkan sikap kritis dari sebagian kalangan Muhammadiyah, termasuk Pemuda Muhammadiyah.

Tetapi Pemuda Muhammadiyah Jabar tetap bisa akrab dan berdialog dengan pemerintahan, seperti dengan Gubernur. Pimpinannya pun bisa akrab berkomunikasi dengan pimpinan militer seperti Pangdam dan Kapolda. Maka dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Pemuda Muhammadiyah seperti Perkaderan, Pemuda Muhammadiyah terbuka, mengundang Gubernur diminta untuk  mengisi sambutan. Sedangkan untuk mengisi akidah itu dari ulama. Kegiatan perkaderan dan pengajian-pengajian.

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pada masa ini sedang ada dalam situasi tantangan demikian tadi. Kebijakan pemerintahan orde baru mulai tampak represif atas kemunculan kalangan kritis. Pada periode ini kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mengambil sikap kebijakan yang tetap sesuai kaidahnya sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang sudah mapan dan dikenal bergerak untuk kemajuan umat dan bangsa. Mungkin inilah salahsatunya, sehingga Pemuda Muhammadiyah disegani dan dijadikan panutan kalangan pemuda lainnya di Jawa Barat.

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pada masa ini selain melakukan pembinaan dan tabligh-tabligh, juga berhasil menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat mengembangkan hobi di kalangan para pemuda. Misalnya mengadakan perlombaan sepakbola, dengan terbentuknya PSHW (Persatuan Sepakbola Hizbul Wathan). Kegiatan lainnya berupa  kaderisasi pelajar serta kegiatan yang menjaga keseimbangan internal dan eksternal.

Dalam situasi pemerintahan yang bersikap represip, kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 1977-1981 ini menghadapi tantangan yang berat. Karena kebijakan demikian ini bisa menjadi hambatan dalam kegiatan-kegiatannya menjadi kurang nyaman (kondusip). Untung saja pimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode ini seorang yang bijaksana. Sehingga dalam masa-masa sulit ini bisa menghadapi tantangan-tantangan ini dengan baik.

4. Tahun 1981-1985 Drs.H. Irfan Anshory

Kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 1981-1985 dipimpin ketuanya oleh Irfan Anshory. Seorang pemuda yang asalnya dari Sumatera Selatan, tepatnya Lampung. Seorang yang sejak muda aktip di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Lampung dan juga di Pelajar Islam Indonesia (PII).  Ketika Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Ketuanya Hasan Syarif,  Irfan Anshory sudah aktip di Pemuda Muhammadiyah kota Bandung.  Di Pemuda Muhammadiyah kota Bandung, Irfan Anshory aktip bersama-sama dengan Kasvul Anwar, Jaenuri, Jalaluddin Rakhmat, Mursalin Dahlan (wawancara dengan Drs.H.Irfan Anshory, 18 Nopember 2009).

Dalam Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah tahun 1981, Irfan Anshory terpilih menjadi tiga besar bersama Farid Ma’ruf Noor dan Jaenuri, untuk memimpin Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat. Karena Farid Ma’ruf dan Jaenuri aktif di partai (PPP), maka Irfan Anshory diprioritaskan memimpin Pemuda Muhammadiyah periode 1981-1985. Farid Ma’ruf dan Jaenuri termasuk salah satu ketua dengan sekretarisnya Rafani Akhyar.

Periode ini Pemuda Menghadapi situasi yang berat. Ketika pemerintah orde baru memberlakukan asas tunggal pancasila yang asalnya untuk organisasi partai politik, kemudian melebar kepada ormas-ormas. Reaksi pun bermunculan dari ormas, sehingga ormas-ormas Islam pun beberapa diantaranya ada yang terpecah demi mempertahankan asas ini. Pemuda Muhammadiyah pada waktu itu dihadapkan pula pada hal tersebut. Sehingga Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang seharusnya dilaksanakan 4 tahun sekali, harus tertunda dari tahun 1978 hingga tahun 1985. Karena Muhammadiyah dan ortom-ortomnya seperti NA, IPM, IMM harus bersama-sama mengadakan Muktamarnya. Ini dalam rangka mengambil keputusan bersama dalam menyikapi pemberlakukan asas tunggal ini. Ketika itu kepemimpinan Pusat Muhammadiyah ketuanya Kyai Haji AR Fachrudin. Maka muktamar tahun 1985 di Solo ini merupakan muktamar seluruhnya. Setelah sempat pro-kontra tentang penerimaan Pancasila ini sebagai asas, akhirnya terjadi kesepakatan dengan Pancasila diakui sebagai asas dan Islam dinyatakan sebagai aqidah organisasi Muhammadiyah dan ortom-ortomnya. (wawancara dengan Drs.H.Irfan Anshory, 18 November 2009)

Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat pada periode 1981-1985 ini menjalankan kegiatan-kegiatannya antara lain dengan pendekatan seni dan olahraga. Ini banyak manfaatnya dalam menjalin kebersamaan dan kedekatan dengan kader-kader di daerah, misalnya dengan terbentuknya PSHW dan penyelenggaraan perlombaan seleksi antar daerah.

Pada masa ini Pemuda Muhammadiyah tidak berhaluan politik praktis sehingga Pemuda Muhammadiyah menjadi terkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah selaku Pelopor Pelangsung Cita-cita Gerakan Muhammadiyah.

Kegiatan pelatihan-pelatihan mubaligh pun kontinyu dilakukan, juga kegiatan Darul Arqam serta pengajian-pengajian di daerah-daerah berlangsung. Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Wilayah seperti Irfan Anshory, Farid Ma’ruf dan Jaenuri misalnya, itu biasa berkeliling ke daerah-daerah dalam rangka pembinaan kader Pemuda Muhammadiyah.

Karena semaraknya kegiatan pengajian Pemuda Muhammadiyah, seolah-olah terjadi “fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan antara pengajian Muhammadiyah dengan pengajian Pemuda Muhammadiyah.  Ketika itu Irfan Anshory dan Farid Ma’ruf, juga Agus Al Wafir (Cirebon), sudah terjun ke daerah-daerah untuk menggerakan pengajian. Itu di tengah situasi pemerintahan yang terus mengawasi gerakan-gerakan kumpulan massa. Tapi hanya diawasi saja, kegiatan tetap berlangsung tidak ada hambatan dihalang-halangi.  

Pada periode ini Pemuda Muhammadiyah suka pula mengadakan kegiatan bersama dengan organisasi Pemuda Islam lainnya, terutama ketika menghadapi persoalan keumatan.

Dengan nada kritis Irfan Anshory menegaskan makna semboyan Pemuda Pelopor Pelangsung Amal Usaha Muhammadiyah itu, “bagaimana pemuda bisa menjadi pelopor pelangsung cita-cita Muhammadiyah jika semboyan itu tidak diserap serta tidak dilakukan komunikasi Pemuda dengan orangtua (Muhammadiyah)?”.

Dalam pandangan Irfan Anshory, kalau pun tampak kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pemuda dengan orangtua (Muhammadiyah), hal ini muncul sejak Pimpinan Muhammadiyah sudah bersifat praktis (praktis-pragmatis) begitu pun dengan yang terjadi pada Pemuda Muhammadiyahnya.

Ketika Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dalam  kepemimpinannya Irfan Anshory, para Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat waktu itu seperti Pak Sulaeman Faruq, Pak Asikin dll itu betul-betul menunjukan pimpinan yang ikhlas. Juga Pak Hambali, Pak Iping mereka itu menunjukan sikap yang ikhlas. Mereka menempatkan jabatan sebagai amanah. Sehingga Pemuda Muhammadiyah pun termotivasi saat itu. Dan berkomunikasi dengan orang tua (Muhammadiyah) pun terjalin dengan baik.

Kegiatan lainnya periode ini adalah diadakannya kegiatan-kegiatan perkaderan baik tingkat wilayah ataupun pengiriman kader pada kegiatan perkaderan di tingkat pusat. Dalam satu periode ini sampai 3 kali ada pengkaderan tingkat nasional. Termasuk pernah diadakan perkaderan tingkat nasional di Bandung. Misalnya pada tahun 1984 pernah ada seminar perkaderan di Bandung, sebelum Muktamar tahun 1985. Waktu itu Amien Rais baru 2 tahun pulang dari Amerika, juga Syafi’i Maarif dan Watik Pratiknyo baru pulang studi doktor-nya dari luar negeri.  

Adapun perkaderan non-formal itu berupa praktek di lapangan, seperti itu Taufik Rahman itu hasil perkaderan di periode ini. Taufik Rahman yang sekarang suka mengisi di radio. Juga Agus Kusnadi itu dicetaknya juga di periode ini (1981-1985).

Pada periode ini, kalau yang dikader misalnya 20 orang, maka yang jadi bertahan 9 orang, hampir setengahnya. Berbicara kekaderan menurut Irfan Anshory, dalam periode kepemimpinannya kekaderan itu dengan menghidupkan 3 sumber kader:

Pertama, ortom antara lain IPM juga IMM, merupakan sumber kader. Mereka itu diajak untuk aktip di Pemuda Muhammadiyah. Kedua, putera-putera aktivis Muhammadiyah. Mereka dihubungi dan diajak aktip dalam kegiatan pengkaderan dan menjadi anggota di Pemuda Muhammadiyah. Orangtuanya pun dihubungi diajak bicara supaya bisa menghimbau putera-puteranya aktip di Pemuda Muhammadiyah. Ketiga, siswa-siswa perguruan  Muhammadiyah.  Mereka diajak dihidupkan lagi untuk menggerakan ortom Pemuda. Jadi otomatis, orang tua (Muhammadiyah) sendiri melihat bagaimana kiprah gerakan Pemuda Muhammadiyah. Ini secara tidak langsung memudahkan bagi rekruitmen dalam membantu Muhammadiyah. Misalnya ketika Musywil Muhammadiyah dan setelahnya dalam kepengurusan Muhammadiyah, sudah bisa diinventarisir pemuda-pemuda yang bisa direkrut.

Maka tak heran, misalnya pada periode ini dari Pemuda Muhammadiyah sudah terpilih masuk anggota pleno 13 Pimpinan Muhammadiyah, Farid Ma’ruf. Sementara Irfan Anshory di Majelis. Ini karena kapasitasnya sebagai pemuda diakui orangtua (Muhammadiyah).

Jadi karena perkaderan berjalan baik, tumbuh sendiri potensi-potensi Pemuda Muhammadiyah itu tergantung prestasinya. Di periode ini bermunculan kader, Irfan Anshory pun kemudian di waktu kemudian tahun 1990 jadi PWM jadi Ketua Majelis Tabligh. Tahun 1995 menjadi Wakil Ketua PWM, dengan suara nomer dua dibawah pak Hidayat Salim. Padahal waktu itu Irfan Anshory dari pemuda. Tidak ada waktu itu tim sukses-tim sukses. Tidak tahu, setelah reformasi jadi ada yang macam-macam. Jadi menurut Irfan Anshory, pemuda Muhammadiyah harus bergeliat dengan karya nyata.  

Selain memberikan pandangannya tentang kekaderan Pemuda Muhammadiyah. Irfan Anshory pun selaku mantan ketua Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, periode 1981-1985 sempat melontarkan usulan/masukan supaya mantan-mantan ketua Pemuda Muhammadiyah itu bisa bersilaturahmi dengan difasilitasi Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat sekarang.

5. Tahun 1985-1989 Drs. H. Tjutju Sachrum

Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, masa bakti tahun 1985-1989, Ketuanya Tjutju Sachrum. Selain itu, Arif Nuruddin, Rafani Akhyar, Sidik Hasan, Hasan Arif, Iwan Heryadi, Hidayat Zaeni. Pada periode sebelumnya yang menonjol itu prestasi person-person, maka pada periode ini mengupayakan kebersamaan satu tim yang mana situasi saat itu membutuhkan kebersamaan, terlebih dihadapkan pada masalah utama waktu itu, masalah dana. 

Kepemimpinan Pemuda Muhamamdiyah Jawa Barat itu mandiri, tidak ada bantuan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat yang rutin,  maka dalam  mengadakan acara itu pendanaan dilakukan secara mandiri.  

Itu menunjukan memang situasinya saat itu masih kekurangan fasilitas berupa materi. Karena pendanaan waktu itu baru bersumber dari pendidikan. Rumah Sakit waktu itu belum bisa membantu pendanaan, karena baru bisa membantu pendanaan pimpinan pada tahun 1990. Sehingga pada periode ini (1985-1989), kalau akan melaksanakan kegiatan pengkaderan seperti Training Centra Taruna Melati I, II, para pimpinan dan kader berusaha mencari uang.

Dalam periode kepemimpinan Tjutju Sachrum ini, yang paling menonjol kegiatan adalah even kegiatan olahraga, seperti Pekan Olahraga Hizbul Wathan (POR HW). Sekitar tahun 1980-an, tepatnya tahun 1982 diadakan PORNAS di Klaten. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mengirimkan tim. Di seksi olahraga itu dipimpin pak Edo. Yang pada even setelah tahun 1985. Seksi olahraga ini membawa tim Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat termasuk juara ke-2.

Kegiatan Pemuda Muhammadiyah dengan melalui  pendekatan seni dan olahraga karena secara internal bisa merekat kedekatan emosi antar sama kader. Sedangkan secara eksternal, kebetulan pasca kebijakan pemerintah mengusung asas tunggal Pancasila, membuat ormas termasuk ortom Pemuda Muhammadiyah menjauhi yang berbau politik. Pemuda Muhammadiyah lebih melaksanakan kegiatan yang bersifat pembinaan dan kemasyarakatan.

Selain itu menurut pandangan Ketua Pemuda Muhammadiyah periode ini, gerakan Pemuda  Muhamamdiyah itu harus bisa menjangkau seluruh aspek yang  menyangkut kepemudaan. Karena itulah pada periodenya, aspek seni budaya pun tetap di garap. Karena bagaimana pun pemuda ini merupakan jenjang pengkaderan sebelum masuk ke Muhammadiyah. Karena bagaimana pun Pemuda Muhammadiyah itu bersifat heterogen latarbelakangnya, dari latarbelakang pendidikan SD hingga sarjana. Karena menghadapi kemajemukan pemuda yang heterogen. Maka dalam menghadapi Pemuda Muhammadiyah itu dibutuhkan kepemimpinan yang lebih matang lagi. Sedangkan dari kalangan pelajar (IPM) dan mahasiswa (IMM) latarbelakangnya homogen.

Maka Pelatihan Leadership Kebangsaan itu menjadi lebih tepat diadakan di Pemuda Muhammadiyah,  karena kemajemukan pemuda tersebut. Maka pada periode ini diadakan pelatihan atau training serta pelatihan coaching instruktur.  Pelatihan-pelatihan yang bersifat membentuk keahlian dalam bidang pekerjaan seperti praktek sablon dan pelatihan life skill lainnya.

Pada periode ini kegiatan Pemuda Muhammadiyah yang bersifat kerjasama dengan organisasi kepemudaan lainnya terjalin, misalnya dengan bergabungnya dalam KNPI. Waktu itu belum ada ormas-ormas pemuda Islam.

Kerjasama lainnya pernah pula dilakukan dengan pemerintahan, misalnya dalam kegiatan bidang olahraga. Juga semacam kegiatan penataran (P4). Periode ini hubungan dengan pemerintah meskipun tidak dekat sekali, karena gaya birokrasi pemerintahan saat itu, Pemuda Muhammadiyah bisa menjalin komunikasi misalnya dengan gubernur Jawa Barat (Yogi S Memet). Sehingga Pemuda Muhammadiyah untuk yang pertama kali menerima secara langsung bantuan dana sebesar lima (5) juta rupiah untuk Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat yang akan mengikuti Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1989. Padahal sebelumnya tidak demikian, karena pemerintahan cenderung birokratis.

Pada masa kepemimpinan periode 1985-1989 ini, Pemuda Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan birokrasi kalau akan menyelenggarakan kegiatan mengumpulkan massa termasuk untuk mengadakan pengajian yang harus meminta izin. Tetapi ini semua akhirnya bisa dilalui dengan baik. Terbukti kalau akan mengadakan kegiatan-kegiatan ketika terkendala dana, Pemuda Muhammadiyah waktu ini bisa meminta bantuan kepada Pangdam, Polisi, Kodim.. Itu menjalin hubungan kedekatan dengan mereka diperlukan, karena itu kalau ada pergantian Pangdam baru, Kapolda baru pasti Pemuda Muhammadiyah melakukan sowan (wawancara dengan Drs.H.Tjutju Sachrum, 8 Oktober 2009).

Stuktur kepemimpinan pengurus Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 1985-1989 sudah banyak sesuai jumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), ada kabupaten/kota Bandung, Bogor, Cirebon, Serang, Pandeglang (Banten) masih bergabung dengan Jawa Barat, juga Tangerang. Jadi sekitar 20-an daerah yang ada dalam Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat.

Di periode ini Pemuda Muhammadiyah masih seperti dulu. Secara politik Pemuda Muhammadiyah ada yang aktip di PPP, kecuali daerah Indramayu yang sudah dekat ke Golkar. Bahkan waktu itu bupatinya juga orang Muhammadiyah.

Pemuda Muhammadiyah dalam masa kepemimpinan Tjutju Sachrum ini, tampaknya berbeda dengan sebelumnya, salah satunya dalam penggalian dana untuk kegiatan-kegiatan yang berupaya mandiri. Artinya tidak mengandalkan dari induk Persyarikatan (Muhammadiyah).

Dalam hal perkaderan pada tiap departemen relatip berjalan 90%. Pada periode ini pengkaderan Pemuda Muhammadiyah itu berlangsung hingga satu minggu. Selain pelatihan kader, Pemuda Muhammadiyah juga mengadakan kursus mubaligh yang dilakukan rutin setiap hari Sabtu dan Ahad selama 6 bulan berjalan.

Bahkan meskipun tak punya uang (dana), kegiatan terselenggara juga. Salah satu caranya dengan mendekati ibu-ibu ‘Aisyiyah. Karena komunikasi yang baik dengan mereka, setiap ibu-ibu ‘Aisyiyah bisa membantu kegiatan dengan 10-20 bungkus nasi sehingga jatah makan para peserta kegiatan terpenuhi

Selain itu Pemuda Muhammadiyah pun melakukan kunjungan silaturahim ke Pa Arhatha, salah seorang pleno Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, yang juga kebetulan Asisten Gubernur. Selain itu juga silaturahmi ke Pak Iyeng Wirasaputera, dosen IKIP.  

6. Periode 1989-1993 Drs. H. Kosasih Natawijaya

Kosasih Natawijaya mendapat amanah untuk memimpin Pemuda Muhammadiyah periode tahun 1989-1993, sebagai hasil Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah di Indramayu tahun 1989. Periode ini sampai terselenggaranya Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Bandung, sehingga kemudian periode ini Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mengirimkan kadernya ke Pimpinan Pusat yaitu Kosasih Natawijaya dan Rizal Fadhilah. Pada saat Pimpinan Pemuda Pusat, Hajriyanto Tohari.

Periode kepemimpinan tahun 1989-1993 ini Ketuanya, Kosasih Natawijaya, kemudian pimpinan lainnya yaitu: Asep Suparman Asmorowati (Wakil Ketua), Arif Nurudin (sekretaris), Murlan Effendi (Bendahara).

Situasi waktu itu masih kuatnya pemerintahan orde baru, sehingga Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat harus berada dibawah organisasi KNPI tingkat Wilayah dan Pemuda Muhammadiyah menempatkan wakilnya di KNPI yaitu saudara Makhmud Syafe’i.

Dalam masa kepemimpinan periode ini lebih berorientasi dengan menekankan pada penyegaran kepemimpinan, yang saat itu hampir setiap daerah itu mengalami stagnasi sebagai akibat dampak kebijakan pemerintah orde baru, yang mewaspadai dan berusaha “mengendalikan” organisasi pemuda juga.

Untuk itu dibentuk tim yang bertugas menghidupkan kembali pemuda-pemuda Muhammadiyah di kota/kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya tampak, pada periode ini Pemuda Muhammadiyah di kota/kabupaten ada PDPM bergerak lagi. Dan karena aktivitas dan gerakannya yang berkembang dalam periode ini, mendorong keberanian Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mengajukan untuk menjadi tuan rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang disampaikan pada Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Malang. Akhirnya Muktamar Pemuda Muhammadiyah terselenggara di Bandung. Untuk itu sering bertemu Pimpinan Pemuda juga dengan orang tua (Muhammadiyah), untuk menggugah ortom dan orang tua (Muhammadiyah) di Wilayah.

Selain itu, Pemuda Muhammadiyah melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain waktu itu, di daerah ada yang menggarap perkebunan, kursus keterampilan, dan kreativitas pemuda mandiri lainnya dalam rangka menggali dana supaya tidak mengandalkan dari induk Persyarikatan saja.

Dalam hal pengkaderan,Pemuda  Muhammadiyah Wilayah Jabar periode ini melangsungkan beberapa pelatihan kader untuk tingkat wilayah dan daerah. Misalnya di daerah diadakan di Garut, Sumedang, Purwakarta. Serta beberapa kali mengadakan pelatihan kader Pemuda Muhammadiyah tingkat daerah dan wilayah.

Juga ada program unggulan pemberdayaan usaha ekonomi perkebunan. Yang dilakukan kerjasama dengan pemerintah, yang itu dilaporkan kepada gubernur. Semacam program unggulan untuk ditiru di daerah-daerah untuk pemuda mandiri. Selain itu ada kegiatan pelatihan service televisi dan radio, seperti yang dilaksanakan di Sumedang.

Kegiatan lainnya periode ini adalah pelatihan Mubaligh Muda dari Departemen Dakwah. Juga penyegaran para Mubaligh Muda Muhammadiyah itu dengan cara mengirim mereka ke tingkat daerah. Sehingga waktu itu Pemuda Muhammadiyah Cirebon pernah turun ke Kuningan, Pemuda Muhammadiyah Indramayu turun ke Cirebon. Apalagi di daerah Garut, banyak kader-kader dakwah banyak membantu pengkaderan Muhammadiyah. Sehingga banyak Pemuda Muhammadiyah aktip di Majelis Tabligh Wilayah. Ketika itu Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sedang dipimpin Dr.HM. Amien Rais. Sedangkan Majelis Tabligh Wilayah waktu itu dipimpin Farid Ma’ruf Noor.

Dinamika gerakan dakwah Jamaah Dakwah waktu itu tampak terasa jelas. Dari mulai tingkat nasional hingga ke daerah-daerah. Gerakan dakwah yang dalam arti luas. Bukan sekedar dakwah diartikan ceramah di atas mimbar. Pada masa ini aktivis cabang atau ranting itu para pionirnya adalah angkatan muda. Yang sekarang ini angkatan muda tersebut rata-rata sudah pada duduk di tingkat PDM-PDM.

Kemudian aktivitas Pemuda Muhammadiyah demikian, mengalami penurunan. Tampaknya kelihatan sekali setelah mengalami euphoria politik (pasca reformasi). Kader-kader Gerakan Dakwah dan Jamaah Dakwah tersebut memudar.

Pemuda Muhammadiyah dengan geliat seperti disebutkan di atas rupanya perlu dikaji ulang. Bisa dijadikan pertimbangan untuk merumuskan kembali arah kebijakan Pemuda Wilayah Muhammadiyah ke depan.

Dalam membina dan mengembangkan kader Pemuda Muhammadiyah, Kosasih Natawijaya, memiliki pandangan bahwa: pertama, kampus-kampus jangan ditinggalkan Angkatan Muda. Ranting-ranting Muhammadiyah juga jangan ditinggalkan Angkatan Muda. Bahkan alat-alat atau media seperti alat kesenian pun jangan ditinggalkan Angkatan Muda.  

Pada masa kepemimpinan Kosasih Natawijaya, (1989-1993) Pemuda Muhammadiyah itu tidak menutup sama sekali terhadap politik praktis. Banyak juga kader Pemuda Muhammadiyah yang juga aktip di partai PPP atau di Golkar. Baik di tingkat daerah atau pun di tingkat wilayah. Tetapi sebagian yang aktip di parpol itu, menghadapi  kebijakan pemerintah yang saat itu masih represip, ini membuat suasana banyak juga yang tidak betah di wilayah politik praktis.

Tetapi ketika partai politik dibuka los (masa reformasi) banyak Pemuda Muhammadiyah yang masuk ke wilayah politik praktis. Ini  pada sisi lain berdampak pada situasi dinamika Muhammadiyah di bawah. Misalnya kini untuk mencari Ketua Cabang saja terasa kesulitan. Dan yang mengerikan ketika kader-kader yang kembali dari ranah politik praktis itu kembali ke persyarikatan dengan membawa karakter cara-cara politik praktis ke dalam persyarikatan.

Padahal persyarikatan Muhammadiyah sudah punya cara-cara atau mekanismenya tersendiri selaku ormas. Semestinya dalam mengelola orang atau dalam menentukan pilihan dan sikap harus dijaga dengan cara-cara Muhammadiyah. Bukan dengan cara-cara partai politik.

Maka orientasi Pemuda Muhammadiyah atau ortom harus kembali kepada orientasi dakwah Persyarikatan, dalam arti yang luas. Tidak sekedar dengan politik praktis saja.Karena sesungguhnya fenomena kelangkaan kader, sesungguhnya bukan itu yang terjadi. Tetapi kehilangan kader karena suasan internal dan eksternal. Ini dinamika yang harus ditangkap oleh AMM.

Pandangan tentang Kekaderan

Dalam pandangan Kosasih Natawijaya, sekarang ini ada kesan ortom kurang bergairah. Dalam arti menghidup-hidupkan gerakan Muhammadiyah. Ini harus ada yang membangunkan kembali sehingga Pemuda Muhammadiyah melakukan konsolidasi dalam berkiprah bagi persyarikatan dan bangsa.

Dalam menatap kekaderan khususnya yang berkaitan dengan angkatan muda, Kosasih Natawijaya memiliki pandangan bahwa belum adanya upaya memaksimalkan potensi-potensi yang ada di kantong-kantong Muhammadiyah.

Yaitu,pertama di ortom-ortom. Kedua, di Amal Usaha Muhammadiyah. Kalau ketiga kantong kader itu dimaksimalkan ini akan luar biasa. Misalnya, guru perempuan  wajib menghidupkan NA. Guru laki-laki wajib menghidupkan Pemuda.

Ketiga, keluarga-keluarga Muhammadiyah. Putera-putera keluarga Muhammadiyah itu dihimbau, dan diberikan teladan oleh orang tuanya supaya bisa aktip dalam gerakan yang  menginduk pada persyarikatan Muhammadiyah.

Kekaderan dan tujuan pendidikan dalam Muhammadiyah itu sangat erat. Karena pada hakekatnya tujuan pendidikan Muhammadiyah itu adalah menuju pada tujuan Muhammadiyah. Bagaimana akan sampai pada tujuan Muhammadiyah, jika guru-guru di sekolah Muhammadiyah nya tidak mengerti apa Muhammadiyah. Sementara tujuan awal pendidikan Muhammadiyah pada hakekatnya dalam rangka kaderisasi.  

Dan sudah semestinya sekolah-sekolah Muhammadiyah itu jadi model dan dijadikan keberhasilan sosial seperti kaderisasi. SD Antapani bisa dijadikan model. SD Cianjur bisa dijadikan model. Sekarang banyak SMP-SMP Muhammadiyah hampir tutup. Kenapa selesai sekolah mereka tidak dievaluasi. Semestinya mereka itu  dipersiapkan menjadi kader..

Diantara kata kunci keberhasilan kekaderan di Muhammadiyah dalam pandangan Kosasih Natawijaya, adalah silaturahmi dan konsolidasi lintas organisasi otonom. Silaturahmi dibutuhkan untuk mendekatkan suasana ketenangan hati.

7. Periode 1993-1997 Drs. H. Mahmud Syafe’i  (Prof. DR. MA, M,PdI)

Kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat periode tahun 1993-1997, terdiri dari Ketua: Makhmud Syafe’i, Undang Ahkam (Wakil Ketua), Dadang Syaripudin (Wakil Ketua), Zulfahmi (Wakil Ketua), Rahmat Rusmayadi (Sekretaris), Rahmat Kurnia (Wakil Sekretaris), Murlan Effendi Muluk (Bendahara) dan Ade Kheruddin (Wakil Bendahara) dan anggota Uum Syarif Usman yang masuk di periode pertengahan (dari IMM) serta Ugas Rahmansyah demikianpun kepengurusan diisi oleh komposisi perwakilan daerah diantaranya dari Cirebon Agus Al Wafir dan Ratija Bratamanggala, Sugandi. Abdul Rozak, Amin Permana  Muslim (Indramayu), Nana Sutisna (Ciamis), Osih Kosasih, Undang Mahfud, Iip Syarif (Tasikmalaya). Kemudian berikutnya, Herman Mustofa, Iso (Garut), Aceng Hasbandi, Maman Suryaman, Ade Khaeruddin, Idin Wahidin (kabupaten Bandung), Dayat Hidayat (Purwakarta), Cecep Suplihat (Bogor), Abdurahman Fatah (Subang), Entis Sutisna (Sukabumi), Muhi Muhas, Syafii Zakaria ( Banten), Azhar, Abdurahman (Purwakarta). Juga Saputra, Karman, Arif Nurudin, Salim Baraba, Suhada, Priono, Eko Widodo. Kepengurusan banyak menyeluruh hampir 90 orang.

Dalam kepengurusan ini dihadapkan pada dinamika internal dalam pembentukan kepengurusan, maklum masih muda sehingga perlu beberapa kali rapat. Kemudian pula periode ini dihadapkan pada masalah keuangan, pasca Muktamar Pemuda di Bandung. Akhirnya bisa diselesaikan pula setelah berusaha melibatkan unsur  PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) dan juga bantuan Gubernur Jawa Barat waktu itu, R Nuriana.

Tahun 1995 rintisan kegiatan periode ini mulai berjalan dimulai dengan konsolidasi ke majelis-majelis terkait. Menata sarana internal ruangan kegiatan. Kemudian menyelenggarakan Pelatihan Dasar militer langsung menghidupkan kembali KOKAM yang dilatih RINDAM, ketika Panglimanya Mayjen Tayo Tarmadi. Kegiatan ini diikuti 183 peserta Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Barat. Ketika PWM masih dalam kepemimpinan Prof. Dr. H. Hidayat Salim. Pelatihan ini merupakan wujud dari Pemuda Muhammadiyah yang hadir bukan sekedar untuk Persyarikatan Muhammadiyah tapi juga untuk bangsa. Ini bentuk sikap kebangsaan dari Pemuda Muhammadiyah.

Kegiatan berikutnya tahun 1995-1996 Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat mengadakan Pelatihan Darul Arqam Madya sampai Dewasa. Kemudian dilanjutkan kegiatan Pelatihan Kamtibmas di Jakarta. Sebuah pelatihan tentang manajemen sosial secara lengkap. Kemudian Pemuda Muhammadiyah pun mengikuti kompetisi kepemimpinan di KNPI Jawa Barat, dengan mengirim kadernya, Makhmud Syafe’i, Murlan, dan Dindin. Dan yang masuk ke KNPI Makhmud Syafe’i, sebagai Wakil Ketua KNPI.

Periode kepemimpinan Makhmud Syafe’i, Pimpinan Pemuda Muhammadiyah biasa berkumpul setiap pekan hari Sabtu-Minggu. Kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat kali ini tetap bisa menjaga hubungannya dengan Pimpinan Muhammadiyah secara baik.

Kegiatan lainnya, Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat periode Makhmud Syafe’i, mengadakan pentas seni pelajar SMA se-Jawa Barat. Pertandingan Olahraga Tenis Meja Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Barat. Pentas seni pelajar se-Bandung raya, itu sekitar tahun 1997.

Ketika masa Reformasi, hampir semua ikut berpartisipasi mendirikan PAN. Makhmud Syafe’i, selaku (mantan) Ketua Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat  termasuk salahsatu deklarator pendirian PAN di wilayah Jawa Barat. Tetapi setelah keluar UU tentang Parpol No.1 tahun 1999 yang mengatur PNS tidak boleh aktip di partai manapun, dia memilih tetap sebagai PNS. Sementara kawan-kawannya yang lain banyak yang aktip di partai (PAN).

Sebelum itu ketika jelang Reformasi, beberapa personal Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat ikut aktip dalam menggalang gerakan, hingga keberangkatan ke Senayan, Jakarta. Sekitar sepuluh orang kader Pemuda Muhammadiyah . Mereka mendukung secara positip perubahan tapi bersifat personal, bukan kelembagaan. Kader-kader Pemuda Muhammadiyah tidak diam, tapi aktip  termasuk menggalang pertemuan dalam situasi Reformasi tersebut.

Kemudian setelah itu, Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mendorong kader-kadernya yang berminat aktip di Partai politik atau yang menjadi menghendaki aktip menjadi birokrat. Diantara kader Pemuda Muhammadiyah yang kemudian tampil sebagai birokrat adalah Ugas Rahmansyah. Kader lain yang aktip di partai politik dan pemerintahan adalah Uum Syarif Usman, Abdul Razak, Agus Al Wafier. Agus Al Wafier ini yang menjadi Wakil walikota Cirebon dari PAN. Meskipun langkah-langkah upaya ini bersifat personal, tetapi selaku Pimpinan Pemuda Muhammadiyah merespons dan mendukung mereka dengan jalan berembug supaya bisa mendistribusikan kadernya yang sesuai.

Namun hal ini berdampak positip dan negatip, contohnya jika kader kita keluar dari aturan, maka nama institusi Pemuda pun ikut terbawa. Karena banyak orang yang tidak bisa membedakan mana PAN dan mana Pemuda Muhammadiyah. Dalam periode ini jelas, Pemuda Muhammadiyah terbuka memberikan peluang kepada kader-kadernya yang mau berkiprah di wilayah politik praktis. Bahkan akhirnya banyak kader-kader Pemuda Muhammadiyah yang berkualitas kemudian satu persatu meninggalkan Pemuda Muhammadiyah, karena lebih memilih aktip di partai politik.

Pada saat yang bersamaan, pada periode ini Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dihadapkan pada situasi internal kader yang mengalami penurunan. Misalnya dalam hal kader khusus seperti Tarjih dan Tabligh, di kalangan Pemuda terasa kurang. Ini amat berbeda dengan kader di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yang belum dilakukan pengkaderan juga sudah ada. Ini menunjukan kader yang tidak berimplikasi dengan sesuatu yang instan itu seperti kader Tarjih dan Tabligh terasa cukup sulit. Meskipun demikian, Pemuda Muhammadiyah terus melakukan upaya pelatihan kader seperti Pelatihan  Darul Arqam dengan mengadakan kader khusus pada masyarakat terpinggir yaitu kader damping advokasi.  

8. Periode 1998-2002 Drs. H. Uum Syarif Usman

Periode ini (1998-2002) merupakan masa transisi kepemimpinan nasional. Ketika itu Jawa Barat sedang dipimpin oleh R Nuriana sebagai Gubernur (1993-2003). Waktu itu merupakan era perubahan dari zaman orde baru memasuki babak baru Reformasi. Situasi Reformasi ini yang membedakan periode Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat ini dengan periode-periode sebelumnya. Tentu saja ini mempengaruhi terhadap dinamika internal dan eksternal Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat. Terlebih salah satu figur yang ditokohkan identik dengan reformasi adalah Amin Rais, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Wajar jika nuansa seputar Reformasi mewarnai situasi aktivitas kalangan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat yang berkedudukan di Bandung ini. Bersama pimpinan ortom lainnya seperti Nasyi’atul ‘Aisyiyah (NA), Mutia Umar, dan Pimpinan IPM Jawa Barat, Enjang Tedi, beserta kader-kader AMM lainnya, mereka mendukung gerakan Reformasi dengan berporos di Masjid Mujahidin. Pemuda Muhammadiyah bersama AMM lainnya, aktif menggalang massa menggelar mimbar bebas dan berdemontrasi ke kawasan Gedung Sate, mendukung gerakan Reformasi dan Amien Rais.

Dalam periode kepemimpinan Uum Syarif Usman ini, terjadi dinamika politik yang tinggi dan terbuka. Sehingga para kader Pemuda Muhammadiyah pun berpartisipasi aktif dengan masuk dalam Partai  Amanat Nasional (PAN).

Kegiatan lain, Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 1998-2002 ini selain membangun dinamika kepemudaan berupa Perkaderan dan kegiatan kepemudaan lain, juga pada periode ini, mampu menciptakan suatu terobosan dan tingkat keberhasilan baru di Pemuda Muhammadiyah diantaranya :

1.Mampu berkiprah dalam kegiatan sosial berupa pemberian bantuan kemanusian pada komunitas muslim di Ambon, pasca kerusuhan etnis tahun 2000, yang mana pada kesempatan tersebut saudara Suparno Suhud diberangkatkan ke Ambon dan sepulangnya beliau membawa serta anak-anak Muslim Ambon yang terlantar tingkat pendidikannya ke Bandung dengan tujuan untuk dilakukan pembinaan pendidikannya serta tingkat kemampuannya. Pasca tindakan kemanusiaan tersebut dengan kedatangannya anak-anak muslim Ambon sebanyak 20 orang tersebut, PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat mampu mendirikan Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati yang untuk sementara dirumahkan di Komplek Leuwi Anyar, Leuwipanjang, Bojongloa Kidul, Kota Bandung dengan meminjam Rumah Invetaris Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Namun selanjutnya Panti tersebut mampu mengontak rumah sendiri di Jl. Gatot Subroto (sekarang samping barat Bandung Super Mall)

Namun dikarenakan telah adanya rencana pembangunan Gedung Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati, maka pembinaan anak-anak asuh dialihkan ke Jl. Batu Raden II, Komplek Komplek Batu Raden, Ciwastra, Rancasari, Kota Bandung.

Para Pembina yang mampu memberikan kelangsungan operasional Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati adalah :

1.Semasa di Komplek Leuwi Anyar, Leuwipanjang : Sdr. Drs. H. Uum Syarif Usman, Sdr. Suparno Suhud, S.Ag, Sdr. Yusuf Afifudin, S.Ag, Sdr. Encep Solahudin, S.Ag, sdr. Wawan Setiawan, S.Ag.

2.Semasa Jl. Gatot Subroto : Sdr. Drs. H. Uum Syarif Usman, Sdr. Suparno Suhud, S.Ag, Sdr. Ahmad Mustadjid, Sdr. Encep Solahudin, S.Ag, sdr. Wawan Setiawan, S.Ag, Acep Muharom T. Syam, SH

3.Semasa Jl. Batu Raden II, Komplek Komplek Batu Raden : Sdr. Drs. H. Uum Syarif Usman, Sdr. Suparno Suhud, S.Ag, Sdr. Ahmad Mustadjid, sdr. Wawan Setiawan, S.Ag, Acep Muharom T. Syam, SH

2.Mampu menerima Wakaf Tanah dari Keluarga Bapak Drs. H. Bambang Ayudo, MM seluas 300 M2 bertempat di Jl. Batu Raden IX Komplek Batu Raden, Ciwastra, Rancasari, Kota Bandung, yang diperuntukan bagi lahan pembangunan Gedung Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati.

3.Mampu merintis pengurugan lahan tanah wakaf bagi pembangunan Gedung Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati yang dimotori oleh sdr. Encep Solahudin, S.Ag (sekarang Hakim Agama), Sdr. Suparno Suhud, S.Ag, Sdr. Achmad Mustadjid dan Acep Muharom T. Syam, SH.

4.Menjadi Juara Umum Tingkat Nasional turnamen olahraga sepakbola, tenis meja, dan badminton antar Pemuda Muhammadiyah se Indonesia.

5.Mampu mendirikan Lembaga Bantuan Keadilan Hukum (LBKH) PWPW Jawa Barat tahun 2000 berkantor di Jl. Gatot Subroto- Kota Bandung, samping Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati, yang dimotori oleh sdr. Acep Muharom T. Syam, SH, Encep Solahudin, S.Ag (sekarang Hakim Agama), sdr. Iwan Supriatna, SH, sdr. Maszen Muhamad, SH, Hikmat Priadi, SH dll, dimana mampu menangani berbagai Kasus diantaranya terlibat dalam Tim Pembela / Penasehat Hukum Kasus Bom Antapani, Tim Pembela / Penasehat Hukum Kasus Drs. H. Ukman Sutaryan (RS. Al-Ikhsan Bale Endah), Tim Kuasa Hukum Kasus Perburuhan Karyawan Pabrik Cat di Ujung Berung, Tim Kuasa Hukum PW. Aisyiyah Jawa Barat Kasus Perburuhan mantan Karyawan SPK Aisyiyah Bandung, Tim Kuasa Hukum PWM. Jawa Barat, PW. Aisyiyah Jawa Barat, PWPM Jawa Barat, DPD IMM Jawa Barat dan PW. IRM Jawa Barat dalam Kasus Gugatan Praperadilan Pelaku Video Porno Mahasiswa Itenas dan Unpad terhadap Kejaksaan Negeri Bandung dan POLDA Jawa Barat, Tim Kuasa Hukum Ahli Waris Undang dkk, dll.

6.Mampu mendorong Ketuanya Sdr. Drs. H. Uum Syarif Usman menjadi salah satu pengurus DPD KNPI Jawa Barat sebagai Sekretaris Umum.

 

Kepengurusan Priode 1998-2002

Ketua      

Wakil Ketua

Wakil Ketua

Wakil Ketua

Wakil Ketua

Wakil Ketua

Wakil Ketua

Sekertaris               

Wk Sekertaris

Wk Sekertaris

Wk Sekertaris

Bendahara

Wk Bendahara

Drs. Uum Syarif Usman, (H)

Drs. H. Dadang Syarifudin (MA)

Drs. Rahmat Rusmayadi  (MM)

Suparno Suhud, S.Ag

H. Ade Khaerudin, SE

Drs. Ugas Rahmansyah (H. S.Sos, M.Si)

Drs. Warmin Permana

Drs. Jamjam Erawan, (H)

Rahmat Kurnia, S.E

Yusuf Afifudin, S.Ag

Yusuf Kurnia

Budi Sadarman, SE

Dindin Setiawan, Amd

 

Departemen Kader :

Drs. Karman, Nana Mulyana, Hendar Riyadi, S.Ag, Encep Solahudin, S.Ag, Asep Ahmad Hidayat

Departemen Pengkajian Agama dan Masyarakat :

Aan Radiana, Radea Yulia A. Hambali, Moch. Alfan, Ayi Yunus

Departemen Organisasi :

Nanang Sugiri, S.Ag, Asep Ramdan H, S.Ag, Anton Atoilah, Zaini Abdul Malik, S.Ag

Departemen Tabligh :

Ating Suwardi, S.Ag, Jajang Nasution, Firdaus, Solehudin Hasibuan, S.Ag, Tarsa Ahmad Fauziah.

Departemen KOKAM :

Agus Gunawan, Ii Somantri, Nanang, Hamzah, Kurniawan.

Departemen Olah Raga, Seni dan Budaya :

Yusuf Safari, S.Pd, Achmad Mustadjid, Komar Deni, Yahya, Tata Suntana.

Departemen Kesehatan dan Ling. Hidup :

Dr. Hamdan, dr. Asad, Agus Sugiarto, dr. Saefullah Wewengkang.

Departemen Hukum :

Rahmat, SH, Acep Muharom T. Syam, SH, Makki Yuliawan, SH, Reza Fahlevi.

Departemen Hikmah & Komunikasi Ummat :

Enjang Tedi, S.Sos, Asep Rahmat Nugraha, Syahid Arsalan, S.Ag, Yuse Rizal Bachtiar, S.Ag.

Departemen Ekonomi dan Kewirausahaan :

Wawan Setiawan, S.Ag, Asep Rusdayat, Arif Bijaksana, Rodhiyat Fajar Salim.

Departemen Sosial :

Hafidudin, ST, Gunawan, Iim Ruhimat, Purnomo, Hidayatullah.

 

9. Periode 2002-2006 Drs. H. Ugas Rahmansyah, S. Sos, M.Si

Periode 2002-2005, merupakan kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat hasil Musyawarah Wilayah ke XII Pemuda Muhamaadiyah Jawa Barat di Cirebon tangal 1-3 Nopember 2003. Ketika pemerintahan Jawa Barat dipimpin Gubernur Dani Setiawan (2003-2008). Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode ini ketuanya, Ugas Rahmansyah.

Kegiatan kepengurusan periode ini dimulai dengan mengadakan silaturahmi pimpinan untuk merumuskan susunan pengurus. Setelah itu menyiapkan rancangan program kerja. Baik itu program kerja 5 tahun maupun program kerja tahunan. Selanjutnya diselenggarakan rapat pimpinan. Kemudian juga  ditanfizkan  dan juga menggelindinglah program kerja yang telah dipersiapkan. Pada saat kepemimpinan periode ini proses di atas waktu itu bergerak cepat.  

Periode ini berada pada saat pasca reformasi sedang masa reformasi. Dan menjelang Pemilihan Presiden Putaran Pertama tahun 2004. Situasi Pemilihan Presiden yang bersifat baru dengan sistem pemilihan langsung. Dimana pada periode ini mantan Pimpinan PP Muhammadiyah Amien Rais, tampil sebagai salah satu kontestan calon Presiden yang bersanding dengan Siswono Yudhohusodo.

Situasi demikian, mempengaruhi kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah periode ini. Sehingga program Pemuda Muhammaidyah Jawa Barat juga tersita waktu juga untuk perhatiannya ke politik mutakhir saat itu, yatiu dengan mencalonkannya Dr.Amien Rais sebagai calon presiden, dan wakil presidennya adalah dari HKTI, Siswono Yudhohusodo.

Saat itu Pemuda Muhamamdiyah Jawa Barat  aktip terlibat seperti juga Muhammadiyah dalam proses tersebut. Bahkan sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah, Ugas Rahmansyah, menjadi koordinator pelaksana daerah. Dalam proses pemilihan tersebut untuk kota Bandung suara Pak Amien Rais itu menang.

Periode Pemuda Muhammadiyah saat itu dibagi  kepada kegiatan-kegiatan seperti itu, yang itu sebuah keniscayaan. Terlebih itu merupakan gairah baru pemilihan langsung presiden oleh rakyat, Kedua adalah salahsasatu pasangannya dari Muhammadiyah. Mantan ketua umum Muhammadiyah Yaitu DR.Amien Rais.

Sehingga program Pemuda Muhammadiyah  Jawa Barat disamping melaksanakan amanah daripada program Muswil,  juga melaksanakan yang sifatnya kondisional dalam arena  percaturan politik nasional. Ya karena tuntutan situasinya begitu.  

Meskipun demikian, program lainnya terlaksana. Proram kegiatan perkaderan pun terlaksana. Tertib organisasi terlaksana. Pada periode ini Pemuda Muhammadiyah secara internal melakukan pembenahan sarana kegiatan. Memindahkan posisi ruangan secretariat sekaligus mengisinya dengan sarana prasarana yang dibutuhkan layaknya kantor organisasi secara lengkap seperti ada sekarang ini. Itu sebagai inventaris Pemuda Muhammadiyah.

Peralatan Administrasi, inventaris kantor, inventaris  mebeler, komputer dan  foto-foto Pimpinan jangan sampai hilang. Mantan Ketua Pemuda periode  2002-2005 ini mengamanatkan untuk ditambah oleh periode berikutnya. Jadi ditambah, jangan sampai hilang, kemudian yang namanya foto-foto pimpinan yang satu-satu itu, jangan dihilangkan, kalaupun ada rencana untuk reproduksi baru itu jangan hilang tetap harus  ada.  Jadi itu amanat harus ada.”

Lebih lanjut, dia berargumentasi bahwa secara rasional dan sudah merupakan kelaziman baik itu di organisasi professional ataupun di organisasi ormas seperti ada foto pimpinan dari masa ke masa.  Karena kalau tidak dirintis maka itu bisa “gelap” Kader Pimpinan berikutnya itu. Dari satu periode ke periode kini waktunya  itu masih dekat, jadi relatip masih kenal. Tapi kalau ditanya dari mulai sejak kapan periode pertama selanjutnya periode kedua dan seterusnya, jika ada dokumentasi foto-foto misalnya, maka  itu mudah sekali untuk mengingatnya

Ragam Kegiatan dan tantangannya

Kepemimpinan Pemuda Muhammaidyah Jawa Barat dalam periode ini telah melakukan beragam kegiatan. Antara lain Kegiatan Perkaderan, Pelatihan Administrasi, dan Pelaksanaan-pelaksanaan Program yang telah digariskan Musywil.

 Kemudian juga Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat aktip dalam kegiatan Pemantauan Independen yang berkaitan dengan Pilpres dan Pilkada. Kerja sama dengan JPPR dan kerjasama dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pun mengadakan Pelatihan Korp Mubaligh Pemuda yang dilaksanakan di Cilengkrang. Ketika itu Pak Endi  Mulyadi sebagai Pimpinan yang membidanginya.

Kegiatan lainnya Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat menyelenggarakan acara-acara berkala dan berkesinambungan. Misalnya dengan mengadakan acara seminar dan diskusi yang temanya dikaitkan dengan kondisi aktual saat itu.

Pemuda Muhammadiyah itu sudah ada asset. Karena Muhammadiyah itu bukan organisasi baru. Muhammadiyah sudah memilik asset, sebagai organisasi yang sudah dibentuk sebelum adanya republik Indonesia. Ini satu hal yang menjadikan asset Muhamadiyah itu asset sarana dan prasarana sumber daya daya insani yang saling dukung mendukung. Selain itu secara ekternal, Muhammadiyah itu sudah dipercaya masyarakat. Ini modal atau asset sehingga Pemuda Muhammadiyah pun dipercaya masyarakat.

Secara internal, tantangan Pemuda Muhammadiyah adalah kader-kader yang ada di Pemuda Muhammadiyah ini bukan anak-anaknya sebagai kader yang sengaja diberikan (diwakafkan) oleh bapak-bapak aktivis Muhammadiyah kepada Pemuda Muhammadiyah.  Kader Pemuda Muhammadiyah ini adalah serta merta  merupakan secara alamiah membentuk sendiri.

Tidak ada pengkaderan secara sengaja dari Muhammadiyah atau dari Aisyiyah dengan memberikan anak-anaknya supaya dijadikan kader di Pemuda Muhammadiyah, untuk dibina didik dan diciptakan sebagai kader. jadi kita membentuk organisasi secara alami.

Susunan Pengurus :

Sesuai SK. PP. Pemuda Muhammadiyah No. 1.5/100/1423 tanggal 14 Pebruari 2003 ditetapkan susunan pengurus PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 2002-2006 terdiri dari :

Ketua

Drs. Rahmansyah, (H. S.Sos.M.Si)

Wakil Ketua

Drs. H. Jamjam Erawan

Wakil Ketua

Drs. Karman

Wakil Ketua

Enjang Tedi, S.Sos

Wakil Ketua

Encep Solahudin, S.Ag

Wakil Ketua

Yusuf Afifudin, S.Ag

Wakil Ketua

Drs. Moch. Umar

Wakil Ketua

Suparno Suhud, S.Ag

Sekertaris

Yusuf Kurnia, S.Ip

Wakil Sekertaris

Ating Suwardi, S.Ag

Wakil Sekertaris

Zaini Abdul Malik, S.Ag

Wakil Sekertaris

Yusfitriadi, S.Ag

Wakil Sekertaris

Binhuan Sori, ST

Bendahara

Acep Muharom T. Syam, SH

Wakil Bendahara

Wawan Setiawan, S.Ag

Wakil Bendahara

Abdullah Effendi

Wakil Bendahara

Achmad Mustadjid

 

Sesuai SK. PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat No. 1.5/17/1424 tanggal 16 Mei 2003 ditetapkan susunan Personalia Anggota Bidang terdiri dari :

 

1

Org dan Sistem Informasi

Rifqi Ali Mubarok, S.Ag

Rahmat Munandar

Ahmad Ma’some

E. Nurdin

Acep

Zainal Ikhsan

Sofwan Harist

Setiawan

Sunaryo Sarwoko

M. Ramdhani

Abdul Jalil

Erik Mubarok

Dindin Setiawan

2

Hikmah - Hub. Kelembagaan

H. Makki Yliawan

Syahid Arsalan

Tb. Maman Suherman

Maszen Muhamad, SH

Erik Wilanjana

Anton

Yudi Nurul Ihsan

Asep Burhan

Budiman Nugraha

Usep Saepudin

Ichsam Cahyana

3

Kader dan Pengemb. SDI

Andri Yana, S.Ag

M. Rahman Ramdhani

Ayi Yunus Rusnaya

Naufal Ramadhian

Ahmad Zaki

Fauzan Jamal

Iman Nurdin

Elfi Najmuzzaman

Reza Alwan Sovnidar

Ahmad Firmansyah

4

Ekonomi dan Kewirausahaan

Ujang Priyanto

Iwa Kurniawan

Arif Bijaksana

Komar Deni

Dedeng Mulyadi

Ade Irvan Nugraha

Ihsan Imadudin

Asep Rusdayat

Fadil Suharto

Mangun Rusnaya

Pepi Januar Pelita

Ahmad Dahlan

Agus Gunawan

5

Dakwah dan Kajian Agama

Roni Tabroni

Jaenal Arifin

Ace Somantri

Deden Ibnu Rusmana

Yudi Daryadi

Ahmad Imam Mujahid Rais

Endi Mulyadi

Ruhiyat

Dadan Ramadhan

Hari Nugraha

Iwan Syarif

Arsyad

Sunardi

Ridwan Hilmi

6

Kokam dan SAR

Ii Somantri

Nana Suryana

Dayatulloh

Dede Solih

Endang Mahbub

Andrian Ramadhani

Nasrudin

Kurniawan

Warsa Sugianto

Agus Munawar

Sansan Hasanudin

7

Kokam dan SAR

Ii Somantri

Nana Suryana

Dayatulloh

Dede Solih

Endang Mahbub

Andrian Ramadhani

Nasrudin

Kurniawan

Warsa Sugianto

Agus Munawar

Sansan Hasanudin

8

Seni, Budaya dan Olah Raga

Hidayatulloh Muin

Yusuf Safari

T. Tajudin

Heri Hidayat

Yusep Furqon

Arfan Amali

Salim Yusuf

Firdaus Esmazie

Satam

Juniardi Firdaus

9

Lembaga Bantuan Keadilan Hukum

Acep Muharom T. Syamsidin, SH

Maszen Muhamad, SH

Encep Solahudin, S.Ag

Iwan Supriatna, SH

Hikmat Pribadi, SH

10

Panti Sosial Asuhan Anak

“Tunas Melati”

Drs. Ugas Rahmansyah, Sos.M.Si

Yusup Kurnia, S.Ip

Acep Muharom T. Syamsudin,SH

Binhuan Sori, ST

Udin

 

PROGRAM KERJA

a. Bidang Organisasi dan Sistem Manajemen Informasi

Agenda konsolidasi dan kaderisasi secara terus menerus dilakukan, baik internal Pimpinan Wilayah, maupun ke Pimpinan Daerah, secara formal maupun informal. Agenda konsolidasi organisasi menjadi prioritas untuk memantapkan dinamika organisasi serta memperkokoh kader Pemuda Muhammadiyah dalam merespon ber-
bagai agenda dan problematika persyarikatan, umat dan bangsa.

Diantara program yang telah dilaksanakan antara lain adalah sebagai berikut:

1.Bersilaturahmi dengan PW. Muhammadiyah dan Ortom, Pemerintahan Daerah Propinsi Jawa Barat, OKP tingkat Jawa Barat, dan lembaga lainnya.

2.Mengutus dan mendorong terselenggaranya Musyawarah Daerah dan Pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Se-Jawa Barat, bahkan ikut membidani didirikannya Pimpinan Daerah yang baru yaitu PDPM Cimahi.

3.Mengutus Peserta Rembug Nasional AMM terra "Leadership for Good Governance" pada tanggal 6-8 Pebruari 2004 di Jakarta.

4.Mengutus Peserta Musprop X Pemuda/KNPI Prop. Jawa Barat Periode 2004-2007 padatanggal 27-29 Pebruari 2004 di Lembang.

5.Mengikuti Pelantikan Pengurus DPD KNPI Prop. Jawa Barat pada tanggal 16 April 2004 di Bandung.

6.Mengutus Peserta Rapimwil Muhammadiyah Jabar tanggal 4 September 2004 di Aula Mujahidin Bandung

7.Melaksanakan Program JPPR.

8.Mengikuti Rakornas Pemuda Muhammadiyah Agenda Pilpres Tahap 2 pada tanggal 4-5 September 2004 di Jakarta.

9.Menyelenggarakan Rakorwil Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pada tanggal 17 September 2004 di Mujahidin.

10.Mengutus Peserta Tanwir II Pemuda Muhammadiyah di Banjarmasin tanggal 7-10 Oktober 2004.

11.Menyelenggarakan Refreshing Pimpinan dengan peserta PD. Pemuda Muhammadiyah Se-Jawa Barat tanggal 1-2 Januari 2005 di Garut.

12.Silaturahmi dan Dialog bersama Mantan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat tanggal 1 April 2005 di Komplek Masjid Raya Mujahidin dengan pembicara Dr. H. Mahmud Syafe'i, MA dan Drs. H. Tjutju Sachrum.

13.Menjadi peserta Kongres Angkatan Muda Muhammadiyah tanggal 3-5 Juni 2005 di Yogyakarta.

14.Menjadi Penggembira Muktamar Ke-45 di Malang Jawa Timur.

15.Menjadi peserta Rakornas MONEV BOS kerjasama PP. Pemuda Muhammadiyah dan Departemen Pendidikan Nasional di Hotel Sofyan Jakarta.

16.Mengikuti Silaturahmi Muhammadiyah Jawa Barat tanggal 19 November 2005 di Mujahidin.

17.Mengikuti Pembukaan Muswil Aisyiyah Jawa Barat tanggal 3 Desember 2005 di Wisma Taruna.

b. Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Masyarakat

Gerakan Pemuda Muhammadiyah, selain sebagai organisasi kader, juga sebagai organisasi dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar. Ada beberapa program yang telah digagas oleh Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Masyarakat yaitu sebagai berikut:

1.Menyelenggarakan Tausiyah Kuliah tujuh Menit dalam setiap dimulai Rapat atau pertemuan Pimpinan Wilayah.

2.Mengisi Khutbah Jum'at dan Pengajian di Masjid-Masjid, khususnya di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung.

3.Menulis artikel di berbagai Buletin, Jurnal dan Media Massa Cetak.

4.Menghadiri Pengajian Pimpinan PWM Jawa Barat bersama Prof. Dr. H.M. Amien Rais pada tanggal 25 Januari 2004 di Mujahidin.

5.Menghadiri Pengajian PWM Jabar bersama Prof Dr. Amien Rais, MA pada tanggal 7 Agustus 2004 di Mujahidin.

6.Menjadi Peserta Pengajian Ramadhan "Pengembangan Metodologi Istinbath Hukum Islam yang diselenggarakan oleh PW Muhammadiyah Jawa Barat di Mujahidin tanggal 29-31 Okt. 2004. 

7.Menyelenggarakan Pelatihan Da'i Muda tanggal 22-24 April 2005 di Gelanggang Generasi Muda Bandung.

c. Bidang Hikmah danHubunganAntar Lembaga

Sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, maka Pemuda Muhammadiyah mempunyai tanggung jawab moral terhadap berbagai dinamika pemerintahan dan perubahan sosial. Untuk meresponi berbagai agenda dan problematika keumatan dan kebangsaan yang sedang mengemuka, maka Bidang Hikmah dan Hubungan Antar Lembaga telah melakukan aktivitas program sebagai berikut :

1.Menyampaikan pernyataan sikap PWPM Jabar tentang Pemilu Ulang, Perolehan Sementara Suara PAN dan Pencalonan Amien Rais for President pads tanggal 12 April 2004.

2.Memfasilitasi Temu Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Tingkat Jawa Barat tentang Pilpres Tahap 1 pada tanggal 27 April 2004 di PUSDAI Jabar dan tanggal 29 April 2004 di Sekretariat PWPM Jabar.

3.Menggelar Diskusi Publik tentang "Sistem Pemilihan Umum Tahun 2004" bekerjasama dengan Pemerintah Jepang pada tanggal 31 Maret 2004 di Gelanggang Generasi Muda Bandung. 

4.Mengikuti Dialog Pemuda & Silaturahmi Kaukus Muda Jawa Barat pada tanggal 18 Mei 2004 di Hotel Panghegar Bandung.

d. Bidang Kader dan PengembanganSumber Daya Insani

Pemuda Muhammadiyah merupakan organisasi kader yang memiliki misi kekaderan sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa. Diantara program yang telah dilaksanakan antara lain adalah sebagai berikut:

1.Mendorong dan merealisasikan adanya transformasi kader dari          ortom tingkat Wilayah ke PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dan dari PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat ke persyarikatan dan amal usaha.

2.Menggelar Diskusi Panel "Kader Muhammadiyah Dalam Pemilu Tahun 2004" pada tanggal 20 Pebruari 2004 di Mujahidin.

3.Mengirim utusan pada Semiloka Perkaderan & Rakernas Bidang Kader PP PM pada tanggal 20-22 Mei 2004 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

4.Mengisi materi dalam Lokakarya AMM Sukabumi pada tanggal 17-18 April 2004.

5.Menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Kader dan Pengembangan Sumber Daya Insani PW Muhammadiyah Jawa Barat.

6.Menjadi Peserta Pelatihan Tingkat Nasional Pemuda Muhammadiyah tanggal 7-9 Januari 2005 di Wisma MUI, Cimacan, Puncak, Cianjur.

7.Menjadi Peserta Dialog Pemuda Lintas Agama tentang Sosial Keagamaan oleh Departemen Agama Jawa Barat tanggal 14 - 16 November 2005 di Wisma BKM Bandung.

e. Bidang Ekonomi, Koperasi dan Kewirausahaan

Dalam rangka penguatan ekonomi sebagai prioritas jangka panjang untuk penguatan organisasi dan pembinaan sumber daya manusia, maka Bidang Ekonomi, Koperasi dan Kewirausahaan telah menyelenggarakan program antara lain :

1.Membuka komunikasi menuju terjalinnya kemitraan dengan Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Jabar, Badan Usaha Milik Muhammadiyah, maupun lembaga ekonomi lainnya.

2.Menginventarisir Pengusaha Muda Muhammadiyah se-Jawa Barat.

3.Menginventarisir potensi dan asset ekonomi Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Barat.

f. Bidang Pengembangan Seni Budaya, Olahraga dan Kesehatan

Seni Budaya dan Olahraga perlu mendapat apresiasi dan aktualisasi dalam rangka penguatan kader sehingga tertanam sikap yang dinamis, sportif, kreatif, disiplin, prestatif dan bertanggung jawab. Untuk merealisasikan hal tersebut di atas, Bidang Pengembangan Seni Budaya, Olahraga dan Kesehatan barn melaksanakan program antara lain sebagai berikut :

1.Pendataan potensi bakat kader Pemuda Muhammadiyah dalam bidang seni, budaya dan olahraga.

2.Berpartisipasi dalam kegiatan kesenian, kebudayaan dan keolahragaan yang diselenggarakan pihak lain.

g.  Bidang Sosial, Kokam dan SAR

Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat memandang bahwa dimensi sosial perlu juga mendapat perhatian keorganisasi, disamping Kokam yang sudah terlebih dahulu terlembagakan yang kini lebih mengarah pada SAR. Oleh karena itu, Bidang Sosial, KOKAM dan SAR telah melaksanakan program antara lain sebagai berikut :

1.Mengelola aktivitas Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati dengan beberapa agendanya adalah pembangunan gedung asrama dan menseleksi pengurus baru PSAA Tunas Melati pada tanggal 28 September 2004.

2.Menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) KOKAM Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat pada tanggal 1 - 3 Oktober 2004 di Rancaupas Kabupaten Bandung.

3.Menyelenggarakan Buka Shaum Bersama dan Silaturahmi Pengurus Baru PSAA Tunas Melati dengan PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat di PSAA Tunas Melati tanggal 23 Okt 2004.

4.Menjadi peserta Kursus Pimpinan Nasional (SUSPIMNAS) KOKAM & SAR tanggal 20 26 Mei 2005 di Perkemahan Cibubur dan Rindam Jaya Jakarta Timur.

5.Menyelenggarakan Temu Bidang Sosial, KOKAM dan SAR dalam rangka merumuskan Progran Penanganan dan Pelatihan dalam menghadapi Bencana tanggal 28-29 Mei 2005 di Cimanggu Kab. Bandung.

 

10. Periode 2006-2010 Yusup Kurnia, S.Ip

Sesuai Hasil Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, tanggal 30 Maret-1 April 2007 di Sawangan, Kota Depok, terpilihlah saudara Yusup Kurnia, S.Ip sebagai Ketua mengalahkan kandidat lain seperti Enjang Tedi, S.Sos dan  Zaini Abdul Malik, M.Ag 

 

Sesuai SK. PP. Pemuda Muhammadiyah No.  1.5/100/1427 tanggal 14 Juni 2007 ditetapkan susunan pengurus PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Periode 2006-2010 terdiri dari :

 

1

Ketua

Yusuf Kurnia, S.Ip

2

Wk. Ketua Bid.

Organisasi dan Sistem Informasi

Andri Yana, S.Ag, (M.Pd)

3

Wakil Ketua Bid.

Politik dan Kebijakan Publik

Maman Lukmanul Hakim, S.Ag (M.Ag)

4

Wakil Ketua Bid. Kader dan Pengembangan SDI

Binhuan Sori, ST

5

Wakil Ketua Bid. Ekonomi dan Kewirausahaan

Zaini Abdul Malik, S.Ag (M.Ag)

6

Wakil Ketua Bid. Kajian Islam dan Dakwah

Ating Suwardi, S.Ag

7

Wakil Ketua Bid. Hukum, HAM dan Advokasi

Reza Alwan Sovnidar, S.H (MM)

8

Wakil Ketua Bid. Hubungan dan Kemitraan

Roni Tabroni, S.Sos (H. M.Si)

9

Wakil Ketua Bid. Kokam dan SAR

Suhaerudin, S.Ag

10

Wakil Ketua Bid. Seni, Budaya dan Olah Raga

Syarif Hidayatullah, S.Ag

11

Wakil Ketua Bid. Kesehatan dan Ling. Hidup

Ahmad Nurjanah, S.E (S.Pd, M.Si) 

12

Sekertaris

Zainal Ikhsan, S.Ag

13

Wk. Sekertaris Bid. Organisasi dan Informasi

Rusli Halim Fadli, SH

14

Wk. Sekertaris Bid. Politik dan Kebijakan Publik

Nana Gerhana, S.Ag

15

Wk. Sekertaris Bid. Kader dan Pengembangan SDI

H. Tazmaluddin El-Daad

16

Wk. Sekertaris Bid. Ekonomi - Kewirausahaan

Iu Ruslianan, S.Ag (M.Ag)

17

Wk. Sekertaris Bid. Kajian Islam dan Dakwah

Muhdan Amin, S.Ag

18

Wk. Sekertaris Bid. Hukum, HAM dan Advokasi

Ace Somantri, S.Ag (M.Ag)

19

Wk. Sekertaris Bid. Hubungan dan Kemitraan

Enda Rahmat, SE

20

Wk. Sekertaris Bid. Kokam

dan SAR

Nana Suryana

21

Wk. Sekertaris Bid. Seni, Budaya dan Olah Raga

Deden Ibnu Rusmana

22

Wk. Sekertaris Bid. Kesehatan dan Ling. Hidup

Pepi Januar Pelita, S.Sos

23

Bendahara

Acep Muharom T. Syamsudin, SH

24

Wk. Bendahara

Mangun Rusnaya, S.Ag (M.Si)

25

Wk. Bendahara

Sep Rusdayat

Sesuai SK. PW. Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat No. 1.5/036/1428 tanggal 4 Januari 2008 ditetapkan susunan Personalia Anggota Departemen sebagai berikut :

 

1

Departemen

Organisasi dan Sistem Informasi

Arief Nurrakhman, SE

Anggota :

Nasrulloh

Budiman Permana

Ahmad Budiman, S.Pd

Ridwan Raharja

Anton Ramli Putra

2

Departemen

Politik dan Kebijakan Publik

Nana Wijaya

Anggota :

Jajang Setiawan

Aziz

Yudi Daryadi

Dayatulloh

Faliq Mubarok

3

Departemen

Kader dan Pengembangan SDI

Supala, S.Pd.I (M.Ag)

Anggota :

Eko Endro

Rifqi Kaelani, SH

Ujang Sunda

Buyung Supriadi

Zainal Slamet

Cecep Deni

4

Departemen

Ekonomi dan Kewirausahaan

Rifqi Ali Mubarok, S.Ag (M.Si)

Anggota :

Al Mukarom

Solehudin

Dudih

Mufti Sofyan

Hendrawan

Irvan Jamaludin

Erwan

5

Departemen

Kajian Islam dan Dakwah

Dede Syarif, S.Ag

Anggota :

Rochimin

Purnama, S.Pd

Irfan Azzaqi

Dede Kurniawan

Deden Taufik

6

Departemen

Hukum, HAM dan Advokasi

Eri A. Sunandar

Anggota :

Hilal Fakhrudin

Ujuh Juhana

Reza Arfah

Iwan Koswara

Ahmad Tajul Arifin

7

Departemen

Hubungan dan Kemitraan

Hasan Surahman

Anggota :

Agus Sibni

Ismail Farid

Ujang Prianto

Iyus Hermansyah

Aris Iskandar

8

Departemen

Kokam dan SAR

Kurniawan, S.Ag

Anggota :

Hasan

Hamdan B. Mulyana

Dasep Adhiyat

Achmad B. Syaprudin

Soleh

9

Departemen

Seni, Budaya dan Olah Raga

Abdurahman

Anggota :

Tatang Ruhiyat

Helmi Ali Akbar

Budiman

Dani Ridwan

Asep Tarsono

10

Departemen

Kesehatan dan Ling. Hidup

Cucu Hambali

Anggota :

Yusep Furqon

Asep Rahmat

Purnomo

Dadang Sopana

Fakhrudin Azis

 

Pada tahun 2008 dikarenakan saudara Zainal Ikhsan, S.Ag tidak aktif, maka posisi sekertaris diganti oleh saudara Ahmad Nurjanah, SE, S.Pd, M.Si merangkap sebagai wakil Ketua Bidang sampai akhir periode 2010.

PROGRAM KERJA

a.             Silaturahmi & Konsolidasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Barat

b.             Melaksanakan Pelatihan Kader Mubaligh Berbasis Multimedia & Entrepreneurship di Gedung BKM Provinsi Jawa Barat tanggal 25 - 26 Juli 2009.

c.             Menyelenggarakan Pelatihan Melati Dewasa tanggal 26-28 Desember 2008 di Gedung BKM Provinsi Jawa Barat

d.             Mengikuti Pelatihan Taruna Siaga Bencana di Jakarta 

e.             Mengelola Program Sarjana Pemuda Penggerak Wajib Belajar (SP2WB) di beberapa kota di Jawa Barat kerjasama dengan Dirjen Depdiknas.

f. Menggagas Seminar Kewirausahaan Ekonomi dengan Bank Bukopin Syariah dan KADIN di STIE Muhammadiyah Bandung

g.             Menggelar Diskusi Politik " Muhammadiyah & Pemilu 2009 : Prospek Partai Politik Muhammadiyah Dan Membangun Kesepahaman Antara Kader Politik Muhammadiyah Bagi Suksesi Pemilu 2009" kerjasama dengan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Jawa Barat tanggal 9 Agustus 2009 di Aula Mujahidin

h.             Memfasilitasi Bedah visi Kandidat Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Periode 2010 - 2014 tanggal 18 April 2010 di Aula Mujahidin Bandung

i. Menyelenggarakan Refleksi Hari Sumpah Pemuda bekerjasama dengan 28 OKP yang tergabung dalam Poros Pemuda Jawa Barat (RODA JABAR) tanggal 27 Oktober 2010 di Aula Pikiran Rakyat Bandung

j. Menjadi Inisiator pembentukan Forum Silaturahmi OKP Islam Jabar.

k.Turut serta secara aktif menata lingkungan untuk menyejukkan bumi berdasarkan asas keseimbangan alam yang merupakan realisasi penandatanganan kerjasama antara Departemen Kehutanan dengan PP Pemuda Muhammadiyah melalui Nota Perjanjian Kerjasama Nomor : 423/Menhut-V/2006 dan Nomor : 1.5/007/1427, tanggal 10 Juli 2006, tentang Pelaksanaan Penanaman Hutan Rakyat yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk-Citanduy.

1. Tahun 2007

Tahun 2007 PWPM Jawa Barat menerima alokasi bibit sebanyak 45.000 batang pohon terdiri dari : Jati  5.000, Mahoni 5.000, Mangga 5.000, Manglid 5.000, Petai 5.000, Albasiah 5.000, Ampupu 5.000, Suren 5.000, Rambutan 2.000, Alpuket 3.000 yang didistribusikan di Kabupaten Garut. : Banyuresmi, Cibiuk, Kersamanah, Leuwigoong, Sukawening dan Blubur Limbangan.

2. Tahun 2008

Tahun 2008PWPM Jawa Barat menerima alokasi bibit sebanyak 335.250 batang terdiri dari : Mahoni  36,650, Albasia 79,600, Suren  7,500, Jati 26,250 dan Nyamplung 100,000 yang didistribusikan di Kabupaten

Ciamis 30,250, Kab. Cirebon 32,500 , Kab. Garut 89,500, Kab. Indramayu 24,000, Kab. Kuningan 16,000, Kab. Majalengka 48,500, Kab. Sumedang 72,000, Kota Cirebon 12,500 dan Kota Tasikmalaya 10,000

3. Tahun 2010

Tahun 2010 PWPM Jawa Barat menerima alokasi bibit sebanyak 50.000 batang terdiri dari : Jati 1,200, Alba 24,000, Mahoni 6,000, Jati Putih 1,500, Suren 5,000, Mangga 4,900, Petai 3,000, Rambutan 2,500, Sukun 1,500, Alpukat 1,500  yang didistribusikan di Kab. Sumedang 26,700, Kab. Majalengka 7,600 dan Kab. Indramayu 15,700.

l.Mengelola aktivitas Panti Sosial Asuhan Anak Tunas Melati PW. Muhammadiyah Jawa Barat dan mengganti pengurus baru PSAA Tunas Melati pada tanggal 20 Agustus 2007.

 

11. Periode 2010-2014 Andri Yana, M.Pd  (Kandidat Doktor)

Sesuai Hasil Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, tanggal 23-24 April 2011 di Bandung, terpilihlah saudara Andri Yana, M.Pd sebagai Ketua mengalahkan kandidat lain seperti H. Roni Thabroni, S.Sos, M.Si, Binhuan Sori, ST, Zaini Abdul Malik, M.Ag, Supala, S.Pd.I, Reza Alwan Sovnidar, SH, MM, Maman Lukmanul Hakim, M.Ag dan Ace Somantri, M.Ag.

Sesuai Surat Keputusan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah No. 1.5/177/1432, tanggal  8 Juni 2011, maka terbentuk Susunan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat periode 2010-2014 sebagai berikut :

 

NO

NAMA

JABATAN

1

Andri Yana, M.Pd.

Ketua

2

Maman Lukmanul Hakim, M.Ag.

Sekretaris

3

Supala, M.Ag.

Wakil Ketua

Bidang Organisasi

4

Saepul Anwar, S.Pd.I

Wakil Ketua

Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama

5

Ima Budi Rahayu, S.Ip.

Wakil Ketua

Bidang Pendidikan dan Kaderisasi

6

Kurniawan, S.Ag.

Wakil Ketua

Bidang Kokam dan SAR

7

H. Roni Tabroni, S.Sos., M.Si.

Wakil Ketua

Bidang Komunikasi, Infotel

8

Arif Nurakhman, SE.

Wakil Ketua

Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan

9

Endang Mahbub

Wakil Ketua

Bidang Politik dan Hub. Antar Lembaga

10

Deden Ibnu Rusmana

Wakil Ketua

Bidang Seni Budaya, Olah Raga dan Pariwisata

11

Reza Alwan Sofnidar, SH., MM.

Wakil Ketua

Bidang Hukum dan HAM

12

Alan Barok Umumuddin, S.Pd.

Wakil Ketua

Bidang Buruh, Tani dan Nelayan

13

Zaeni Abdul Malik, S.Ag., MA.

Wakil Ketua

Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral

14

Deden Taufik, S.HI.

Wakil Ketua

Bidang Kehutanan dan Lingk. Hidup

15

Syaeful Ramadlan

Wakil Ketua

Bidang Kesehatan dan Kes. Masy

16

Purnama Sidik, S.Pd.

Wakil Sekteraris

Bidang Organisasi

17

Syafaat R. Selamet, S.Hum.

Wakil Sekteraris

Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama

18

Fahmi Irfan Hamdani. S.Ag.

Wakil Sekteraris

Bidang Pendidikan dan Kaderisasi

19

Eko Winarko

Wakil Sekteraris

Bidang Kokam dan SAR

20

Ismail Hendra, S.Si.

Wakil Sekteraris

Bidang Komunikasi, Infotel

21

Nanang Abdurrahman, ST.

Wakil Sekteraris

Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan

22

H. Mangun Rusnaya, M.Si.

Wakil Sekteraris

Bidang Seni Budaya, Olah Raga dan Pariwisata

23

Yanto Supriyanto

Wakil Sekteraris

Bidang Politik dan Hub. Antar Lembaga

24

Aris Iskandar, ST.

Wakil Sekteraris

Bidang Hukum dan HAM

25

Arif Rahman Hakim

Wakil Sekteraris

Bidang Buruh, Tani dan Nelayan

26

Musani, S.Pd.I

Wakil Sekteraris

Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral

27

Ahmad Rifa'i, M.Ag.

Wakil Sekteraris

Bidang Kehutanan dan Lingk. Hidup

28

Yudi Daryadi, M.Ag.

Wakil Sekteraris

Bidang Kesehatan dan Kes. Masy

29

M. hasan Surahman, S.Si.

Bendahara

30

Iu Rusliana, M.Si.

wakil Bendahara

31

Didin Dirhamsyah, SE.

wakil Bendahara

32

Abdullah Efendi, S.Pd.I

wakil Bendahara

33

Hedi Mulyadi

wakil Bendahara

34

Abdurrahman

wakil Bendahara

35

Falik Mubarok

wakil Bendahara

36

Achmad Budiman

wakil Bendahara

 

PROGRAM KERJA

A.    Bidang Organisasi dan Keanggotaan

1.     Memberdayakan organisasi dengan mengintensifkan gerakan Pemuda Muhammadiyah dari ranting, cabang, daerah, wilayah, dan pusat, yakni melalui perumusan tugas dan pokok – pokok kegiatan yang harus dikerjakan pada masing-masing level secara jelas, terarah, terkontrol, dan terpantau secara baik dan benar sehingga dapat dievaluasi.

2.     Meningkatkan kualitas manajemen organisasi yang efektif dan efisien.

3.     Menyusun standar operasional dan prosedur (SOP) dalam membangun jaringan internal Pemuda Muhammadiyah disemua level dan jenjang tingkatan agar mampu melakukan kerjasama untuk memperkuat konsolidasi organisasi.

4.     Melakukan inventarisasi dan pengembangan organisasi pada daerah pemekaran baru, khususnya pada level daerah, cabang ranting.

5.     Melaksanakan koordinasi, konsolidasi dan komunikasi yang terprogram dan terstruktur dengan semua organisasi otonom, majlis, lembaga dan amal usaha dilingkungan persyarikatan Muhammadiyah, khususnya yang berkaitan dengan penataan organisasi dan system informasi bersama.

6.     Mengadakan konsolidasi (turba) dan pembinaan minimal untuk satu tungkatan pimpinan dibawahnya, dan harus dilakukan sekurang-kurangnya dua kali dala satu periode.

7.     Melaksanakan dan menggalakan pengajian pimpinan pada semua tingkatan.

8.     Memiliki data base anggota dan alumni dari semua tingkatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

9.     Membangun jatidiri dan identitas Pemuda Muhammadiyah, mulai dari yang sederhana seperti hafal mars Pemuda Muhammadiyah, senang memakai atribut Pemuda Muhammadiyah, tertib administrasi dan organisasi dan sebagainya, disamping hal – hal yang bersifat idiologis, filosofis maupun semangat kejuangan lainnya.

10.  Membangun system manajemen keuangan yang transparan, akuntabilitas dan dapat dipertanggungjawabkan.

11.  Membangun system informasi manajamen(SIM) yang baku dan standar, efektif dan mampu dilaksanakan hingga ke jenjang pimpinan ranting.

B.    Bidang dakwah dan Pengkajian Agama.

1.     Melakukan kajian masalah pemikiran keislaman dan kemasyarakatan dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai Islam yang mampu diaktualisasikan dal;am kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.     Melakukan upaya-upaya intensif bagi kaderisasi calon mubaligh melalui berbagai maacam kegiatan, baik dilakukan sendiri maupun bermitra dengan pihak lain.

3.     Melakukan penyempurnaan terhadap metode dakwah yang selama ini dilakukan Pemuda Muhammadiyah, khususnya pendekatan dakwah jamaah dengan menjadikan ranting, cabang, sebagai ujung tombak gerakan dakwah Pemuda Muhammadiyah.

4.     Mampu menemukan pola pengembangan dan model gerakan dakwah jamaah yang efektif dan efisien bagi gerakan Pemuda Muhammadiyah dalam upaya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

5.     Membuat pilot project ranting Pemuda Muhammadiyah yang berhsil mewujudkan gerakan dakwah jamaah.

6.     Memperkaya khazanah kepustakaan dan informasi hasil kajian dakwah tertulis baik melalui media cetak maupun elektronik yang berbentuk buku atau CD room.

7.     Menyusun dan menyebarkan pedoman menghadapi gejala-gejala pemurtadan.

8.     Menyusun peta dakwah, kompetensi dakwah dan tantangan dakwah di setiap daerah.

9.     Mendukung kader Pemuda Muhammadiyah untuk tampil dalam kegiatan dan organisasi dakwah, sesuai tingkatanya.

10.  Menjalin kerjasama dan kemitraan dengan berbagai kalangan untuk memberi kesempatan kepada kader-kader Pemuda Muhammadiyah dalam belajar, magang ataupun kursus dalam mencetak ulama pemikir bidang keislaman.

C.    Bidang Pendidikan dan Kaderisasi

1.     Melakukan kajian dan sosialisasi terhadap kebijakan dan program pemerintah terhadap seluruh aspek pendidikan.

2.     Mendorong pemerintah menyediakan pendidikan untuk semua rakyat, yang terjangkau dan repersentatif secara maksimal.

3.     Melakukan advokasi terhadap guru, siswa, dosen, dan mahasiswa, baik di dalam maupun diluarnegeri, untuk mendapatkan hak-haknya sesuai dengan undang-undang.

4.     Revitalisasi fungsi perkaderan dengan optimalisasi pelaksanaan program perkaderan untuk pimpinan dan anggota dengan menyelenggarakan pelatihan instruktur secara berjenjang, dan untuk tingkatan pusat sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali dalam satu periode.

5.     Mengkaji dan mensosilisasikan modul, model, dan system perkaderan yang telah ada dengan sekaligus mengevaluasi kekuatan dan kelemahannya.

6.     Menjadikan keikutsertaan jenjang perkaderan sebagai salah satu tolak ukur seorang mampu menduduki jabatan pimpinan sesuai tingkatannya untuk menjamin budaya perkaderan intensif , berjenjang dan berkualitas.

7.     Meningkatkan perekrutan, pembinaan dan pengorbitan anggota dengan menanamkan pemahaman yang intensif mengenal prinsip-prinsip gerakan seperti mengenai persyarikatan dengan segala problematikanya, mengenai prinsip-prinsip perjuangan Pemuda Muhammadiyah, dan sebagainya.

8.     Melakukan koordinasi kaderisasi dengan ortom-ortom yang ada pada jenjang, serta memperjuangkan adanya transformasi kader dengan melibatkan dan member pengalaman yang proposional kepada kader yang berasal dari Angkatan Muda Muhammadiyah dalam berbagai aktivitas.

9.     Melakukan pemetaan sumber daya kader yang dimiliki Pemuda Muhammadiyah pada semua level organisasi, khususnya alumni Pemuda Muhammadiyah yang bertebaran dibanyak temapat.

10.  Melmperjuangkan kader-kader Pemuda Muhammadiyah untuk berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

11.  Mengokohkan silaturahim alumni Pemuda Muhammadiyah sebagai bagian dari Pengembangan kader pada berbagai sector kehidupan berbangsa dan bernegara.

12.  Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam pengembangan pendidikan dan kaderisasi.

13.  Menjalin kerjasama kemitraan untuk membantu forum kajian tematik bagi pengembangan Pendidikan dan kaderisasi.

D.    Bidang KOKAM dan SAR 

1.     Melakukan restrukturisasi posisi peran serta dan jati diri KOKAM/SAR Pemuda Muhammadiyah agar dapat tampil ditengah masyarakat , sesuai dengan misi jati diri Pemuda Muhammadiyah.

2.     Melakukan rekrutmen, pelatihan, dan pembinaan KOKAM/SAR dalam upaya meningkatkan kesadaran dan jatidiri anggota Pemuda Muhammadiyah dalam perjuangan bela Negara dan membantu masyarakat, telah terlaksana pada tanggal 23-26 Pebruari 2012 bekerjasama dengan Rindam III Siliwangi, dengan melatih sebanyak 20 orang Tenaga KOKAM.

3.     Membangun jatidiri KOKAM/SAR yang kokoh dan berwibawa sehingga mampu menjadikanKOKAM/SAR sebagai sarana media dakwah di kalangan Pemuda dan bagian dari system perkaderan Pemuda Muhammadiyah yang komperhensif dan berkesinambungan.

4.     Melakukan kajian dan sosialisasi bagi pengembangan pola organisasi dan gerakan pembinaan dan pembiayaan KOKAM/SAR yang variatif, inovatif dan dapat dipertanggungjawabkan.

5.     Tampil secara elegan dalam menjaga dan mengamankan asset-aset organisasi Pemuda Muhammadiyah dan amal usahan Muhammadiyah.

6.     Memberikan pertolongan kepada masyarakat yang menderita akibat musibah bencana alam, baik diminta maupun tidak diminta, sehingga kehadirannya memberikan manfaat bagi rakyat.

7.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam pengembangan KOKAM dan SAR.

8.     Melakukan kerjasama dan kemitraan TNI, POLRI, organisasi kemasyarakatan Pemuda, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain untuk mempersiapkan KOKAM/SAR sebagai lembaga bantuan gerak cepat, tanggap darurat dan memiliki akselerasi tinggi dalam penanganan bencana, situasi kritis, dan pengawalan.

E.    Bidang Komunikasi, Informasi dan Telekomunikasi

1.     Melakukan pengkajian terhadap komunikasi, informasi dan telekomunikasi yang sehat, dengan tetap berpijak pada jati diri bangsa.

2.     Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Information, Comunication and Technology/ICT) untuk kemaslahatn organisasi secara maksimal.

3.     Menyelenggarakan pelatihan tentang penggunaan tekhnologi informasi dan komunikasi (Information, Comunication, and Technology/ICT) yang sehat bagi umat.

4.     Diskusi dan sosialisasi pentingnya kebebasan pers yang sehat bagi terwujudnya demokrasi dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (clean and good governance.

5.     Bekerjasama dengan media cetak dan informasi dalam mensosialisasikan kegiatan Pemuda Muhammadiyah.

6.     Menjalin kerjasama untuk mendirikan radio komunitas Pemuda Muhammadiyah dan memanfaatkan Information, Communication and Technology (ICT), website, jejaring sosial dan lain-lain sebagai sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

7.     Memberikan advokasi terhadap korban penyalahgunaan tekhnologi informasi dan komunikasi (Information, Communication and Technology/ICT).

8.     Memberikan penghargaan terhadap pemuda yang berprestasi dalam pengembangan tekhnologi informasi dan komunikasi (Information, Communication and Technology/ICT).

9.     Menjalin kemitraan dengan berbagai macam lembaga untuk membantu meningkatkan kemampuan organisasi dalam penggunaan tekhnologi informasi dan komunikasi (Information, Communication and Technology/ICT) sebagai wadah berekspresi dan media dakwah yang bercirikan Islam modern.

F.     Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan

1.     Melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat melalui peningkatan sumberdaya manusia, pengembangan jiwa dan semangat kewirausahaan, dan membentuk Badan usaha Milik Pemuda Muhammadiyah (BUMPM).

2.     Melakukan pelatihan dan pilot project pengembangan usaha, baik dilakukan sendiri maupun kerjasama kemitraan dengan lembaga lain yang sesuai dengan visi dan misi Pemuda Muhammadiyah.

3.     Diskusi dan sosialisasi berbagai model dan bentuk pemberdayaan ekonomi yang berlandaskan kepada kekuatan sendiri sebagai wujud dan cita-cita kemandirian ekonomi umat, telah terlaksana pada tanggal 1 Juni 2011 dalam Duskusi Publik Ekonomi dan Kewirausahaan Angkatan Muda.

4.     Memberikan panduan terhadap usaha ekonomi rakyat dalam membangun kemandirian umat diakar rumput (grass root) melalui program dan kegiatan ekonomi produktif.

5.     Membentuk dan membangun jejaring wirausaha Pemuda Muhammadiyah.

6.     Mendorong dan memberikan penghargaan kepada kader Pemuda Muhammadiyah untuk berani dan tampil menjadi contoh pemuda mandiri yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

7.     Melakukan silaturahim wirausaha Pemuda Muhammadiyah yang ditingkat pusat sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali dalam satu periode.

8.     Memberikan penghargaan terhadap pemuda yang berprestasi dan menginisiasi dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.

9.     Melakukan upaya untuk mewujudkan Badan Usaha Ekonomi nyata di tingkat wilayah, Daerah, dan Cabang, sebagai sarana penggalian dana dan peningkatan ekonomi kader menuju kemandirian organisasi.

10.  Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk pengembangan program kewirausahaan dilingkungan Pemuda Muhammadiyah.

G.    Bidang Hikmah dan Hubungan antar lembaga

1.     Mengadakan pengkajian dan member solusi pemikiran terhadap berbagai isu actual dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

2.     Membangun jejaring silaturahim yang berkelanjutan antara Pemuda Muhammadiyah, lembaga swadaya masyarakat, legislative, yudikatif, ormas, kepemudaan, dan lain-lain sebagai upaya menyamakan visi dan misi dalam mengawal reformasi pembangunan di segala bidang.

3.     Mensinergikan seluruh potensi kader Pemuda Muhammadiyah, seperti politisi, birokrat, pengusaha, intelektual, seniman, olahragawan, dan lain-lain untuk bersama-sama melaksanakan misi pencerahan bangsa.

4.     Melakukan gerakan anti korupsi dan penyalahgunaan jabatan dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintah yang bersih dan berwibawa (clean and good governance).

5.     Membangun kekuatan Pemuda Muhammadiyah yang berperan sebagai tenda besar bagi pemuda Islam khususnya umat manusia pada umumnya mengemban misi kerahmatan.

6.     Membangun jejaring dengan berbagai elemen masyarakat pada semua tingkatan dalam rangka rangka mendukung terwujudnya tujuan Pemuda Muhammadiyah.

7.     Membentuk dan mengembangkan simpul-simpul aksi kepedulian terhadap berbagai persoalan umat menuju kearah kesejahteraan bersama.

8.     Proaktif membangun dan mengembangkan solidaritas umat dan manusia terhadap persoalan regional, nasional, bahkan internasional yang menyangkut masalah keadilan, HAM, Kemanusiaan, dan SARA.

H.    Bidang Seni, Budaya, Olahraga, dan Pariwisata

1.     Mengembangkan apresiasi seni, budaya, sastra, obyek wisata sebagai upaya memperhalus budi dan memanfaatkannya sebagai media dakwah.

2.     Melaksanakan dakwah cultural dengan memanfaatkan seni, dan budaya local dan mengisinya dengan nilai-nilai dan ajaran Islam sehingga tindak bertentangn dengan Tauhid.

3.     Melakukan rasionalisasi dan demitologisasi terhadap cerita-cerita rakyat yang berkembang di masyarakat sehingga menjadi cerita yang Islami dan bersih dari pengaruh tahayul, bid’ah dan churafat.

4.     Menyelenggarakan turnamen olahraga yang dapat meningkatkan persahabatan antar sesame komponen bangsa dengan tetap menjaga nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan.

5.     Menyelenggarakan dan menggalakan wisata religi.

6.     Mengadakan kajian dan diskusi tentang seni, budaya, olahraga, dan pariwisata serta membahasnya dalam aspek dakwah yang memungkinkan untuk dilakukan melalui media seni dan olahraga.

7.     Menghadirkan pementasan seni, budaya disetiap even kegiatan Pemuda Muhammadiyah sesuai dengan tingkatannya.

8.     Mensosialisasikan mars Pemuda Muhammadiyah melalui media cetak, online, dan elektronik.

9.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dan menginisiasi dalam bidang seni, budaya, olahraga, dan pariwisata.

10.  Menjalin kemitraan dengan berbagai macam lembaga untuk membantu pementasan seni dan music maupun pertandingan olahraga melalui pertunjukan langsung atau media massa sebagai wadah ekspresi diri dan sebagai media dakwah yang bercirikan Islam Modern.

I.      Bidang Hukum, HAM, dan Advokasi Publik

1.     Melakukan pelatihan advokasi dalam upaya meningkatkan kesadaran hokum dikalangan Pemuda Muhammadiyah, baik menyangkut masalah public maupun penegak HAM.

2.     Melakukan dan mensosialisasikan kajian bidang hokum, dan HAM berdasarkan isu dan atau peristiwa internasional, nasional maupun regional.

3.     Memberikan dan mendukung kontribusipemikiran kepada berbagai pihak terkait untuk mendukung tegaknya supermasi hokum bagi seluruh rakyat.

4.     Memberikan advokasi kepada rakyat yang menjadi korban pelanggaran HAM.

5.     Melakukan dakwah di penjara, sebagai bagian dakwah amar maruf nahi munkar.

6.     Memberikan masukan kepada berbagai pihak agar terlaksananya social control, check and balance antara rakyat dan pimpinan, system pembuktian terbalik dan hukuman yang seberat-beratnya bagi para koruptor, pemberantasan mafia hokum disemua level, jenjang dan tingkatan, menuju tegaknya supermasi hokum yang bersendikan pada keadilan bagi seluruh rakyat.

7.     Memebrikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam mewujudkan Hak Asasi Manusia dan Advokasi Publik.

8.     Melakukan sinergi dan kerjasam kemitraan dengan lembaga dan instansi terkait untuk melakukan pemantauan, pendampingan maupun pengusulan berbagai macam produk hokum yang sejalan dengan misi dakwah Pemuda Muhammdiyah.

J.     Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan

1.     Mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat untuk peduli terhadap buruh, tani, dan nelayan.

2.     Melakukan kajian dan sosialisasi terhadap kebijakan dan program pemerintah terhadap buruh, tani, dan nelayan.

3.     Mendorong pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan secara maksimal.

4.     Melakukan advokasi terhadap buruh, tani, dan nelayanbaik di dalam maupun di luar negeri, untuk mendapatkan hak-haknya sesuai dengan undang-undang.

5.     Mendorong dan melakukan kampanye terhadap keselamatan kerja, dan kesehjahteraan terhadap buruh, tani dan nelayan.

6.     Mendorong untuk mewujudkan kemandirian buruh, tani, dan nelayan.

7.     Melakukan kursus dan pelatihan terhadap peningkatan kemampuan, keterampilan bagi buruh, tani. Dan nelayan.

8.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dan menginisisasi dalam mewujudkan kemandirian dan kesehjahteraan buruh, tani, dan nelayan.

9.     Melakukan kerjasama kajian, seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan dengan berbagai lembaga, instansi terkait dan donor luar negeri dengan tetap menjaga independensi dan kebebasan berdakwah amr maruf nahi munkar.

K.    Bidang Energi dan sumber daya mineral

1.     Mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat untuk peduli terhadap energy dan sumber daya mineral.

2.     Melakukan advokasi dalam Bidang energy dan sumber daya mineral.

3.     Mendorong dan melakukan kampanye terhadap pentingnya kesadaran masyarakat untuk hemat energi.

4.     Mendorong untuk mewujudkan pentingnya blue energy, sebagai energy alternatif.

5.     Melakukan advokasi dan rehabilitasi terhadap daerah bekas tambang.

6.     Melakukan kursus dan pelatihan terhadap peningkatan kesadaran untuk menjaga dan melestraikan energy dan sumber daya mineral.

7.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam menginisisas, menjaga dan melestarikan energy dan sumber daya mineral.

8.     Melakukan kerjasama kajian, seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan dengan berbagai lembaga, instansi terkait dan donor luar negeri dengan tetap menjaga independensi dan kebebasan berdakwah amr maruf nahi munkar.

L.    Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup

1.     Mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat untuk peduli terhadap hutan dan lingkungan hidup.

2.     Melakukan advokasi dalam Bidang kehutanan dan lingkungan hidup.

3.     Mendorong dan melakukan kampanye terhadap pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

4.     Melakukan reboisasi terhadap tanah dan lahan untuk ditanami.

5.     Mendorong pemerintah dan swasta untuk mewujudkan hutan kota, fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ramah terhadap lingkungan.

6.     Melakukan kampanye pentingnya menanam pohon, menjaga dan melestarikan untuk keseimbangan ekosistem lingkungan. 

7.     Melakukan kursus dan pelatihan terhadap peningkatan kesadaran untuk menjaga kelestrian hutan dan lingkungan hidup .

8.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam menginisisasi, menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan hidup.

9.     Melakukan kerjasama kajian, seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan dengan berbagai lembaga, instansi terkait dan donor luar negeri dengan tetap menjaga independensi dan kebebasan berdakwah amr maruf nahi munkar.


Realisasi program
Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup tahun 2011 PWPM Jawa Barat menerima alokasi bibit dari Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Cimanuk-Citanduy, sebanyak 50.000 batang terdiri dari : Jati 10,000, Albasia 5,000, Mahoni 15,000, Suren 5,000, Mangga 5,000, Petai 5,000, Rambutan 5,000 yang dialokasikan melalui

1. Penanaman Hutan Produksi Berbasis Masyarakat Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat berkerjasama dengan PW. Muhammadiyah dan PW. Aisyiyah Jawa Barat berlokasi di Gunung Panyaungan, Desa Bandasari dan Jatisari, Kec. Cangkuang, Kab. Bandung seluas 40 Ha
2.
Kemitraan Kerjasama Konservasi Lahan perwujudan Penghijauan Lingkungan bekerjsama dengan Masyarakat pemilik lahan di Kota Tasikmalaya yang di koordinasi oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Tasikmalaya dan di Kabupaten Tasikmalaya yang dikoordinasi Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Kab. Tasikmalaya dan Di Desa Cikeusi Kec. Darmaraja.
3. Kemitraan Kerjasama Konservasi Lahan berbasis Masyarakat Pedesaan dengan Kelompok Tani
Kehutanan Cakrawati Desa Cikeusi dan Kelompok Tani Kehutanan Darmajaya Desa Darmajaya, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang seluas 10 Ha.

 

M.   Bidang Kesehatan dan Kesehjateraan Masyarakat

1.     Mengembangkan program-program pemberdayaan masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan dan kesehjahteraan masyarakat.

2.     Melakukan advokasi dalam Bidang kesehatan dan kesehjahteraan masyarakat.

3.     Mensinergikan bantuan kesehatan dengan dakwah sosial kemasyarakatan.

4.     Mendorong dan melakukan kampanye pentingnya hidup sehat, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga masyarakat dan bangsa.

5.     Melakukan advokasi terhadap APBN/APBD agar pro terhadap kesehjahteraan rakyat.

6.     Melakukan kursus dan pelatihan terhadap peningkatan kesadaran untuk hidup sehat.

7.     Memberikan penghargaan terhadap Pemuda yang berprestasi dalam menginisisasi, menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan hidup.

8.     Melakukan kerjasama kajian, seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan dengan berbagai lembaga, instansi terkait dan donor luar negeri dengan tetap menjaga independensi dan kebebasan berdakwah amr maruf nahi munkar.

 


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website