K.H. Mas Mansur merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah pergerakan Muhammadiyah yang membawa gagasan-gagasan luhur demi membebaskan umat dari belenggu kejumudan (kebekuan berpikir) menuju pencerahan akal. Lahir di Surabaya pada 25 Juni 1896, beliau tumbuh di lingkungan ulama terpandang; ayahnya, KH Mas Ahmad Marzuki, adalah imam tetap dan khatib di Masjid Agung Ampel. Kedalaman ilmu agamanya ditempa mulai dari Pesantren Demangan di bawah asuhan Kiai Kholil Bangkalan, hingga perjalanan intelektual ke Mekkah dan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Rekonstruksi Etos Melalui Langkah Dua Belas
Melalui risalah historis Langkah Dua Belas, K.H. Mas Mansur merekonstruksi etos kedisiplinan dan kemandirian intelektual sebagai fondasi utama pergerakan Muhammadiyah. Langkah ini dicetuskan saat beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (1937-1942) sebagai respons atas ketertinggalan umat. Beberapa poin krusial dalam Langkah Dua Belas meliputi:
- Memperdalam Masuknya Iman: Menyiarkan iman dengan dalil dan bukti hingga meresap ke hati sanubari.
- Memperluas Paham Agama: Membuka ruang dialog dan perbandingan agar umat memahami luasnya ajaran Islam yang benar dan berguna.
- Menuntun Amalan Intiqad: Senantiasa melakukan kritik diri dan perbaikan atas segala usaha yang dilakukan.
Pemikiran beliau secara konsisten berupaya mendialogkan kemurnian tauhid dengan rasionalitas modern agar umat Islam mampu merespons tantangan zaman secara presisi. Salah satu contoh ketajaman nalarnya adalah pandangannya mengenai bunga bank, yang ia hukumkan haram namun diperkenankan dalam kondisi darurat demi memperbaiki ekonomi umat yang saat itu memprihatinkan.
Kemerdekaan Akidah Sebagai Fondasi Bangsa
Bagi K.H. Mas Mansur, kemerdekaan fisik dari penjajahan harus selalu didahului oleh kemerdekaan akidah dari jerat taklid dan penyesatan. Beliau percaya bahwa melalui fondasi akidah yang merdeka, umat dapat memiliki daya kritis dan prinsip yang kokoh. Hal ini ia praktikkannya melalui pembentukan majelis diskusi Taswir al-Afkar bersama K.H. Abdul Wahab Hasbullah untuk membangkitkan pemuda dari kekolotan.
Kiprah politiknya pun sangat luas, mulai dari memprakarsai berdirinya Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) hingga menjadi bagian dari tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. K.H. Ahmad Dahlan sendiri pernah menjuluki beliau sebagai “Sapu Kawat dari Jawa Timur” karena keberhasilannya dalam melakukan pemurnian ajaran Islam.
Kepemimpinan yang Disiplin dan Progresif
Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah mengalami transformasi administratif yang signifikan. Beliau menekankan disiplin organisasi dengan memastikan sidang diadakan tepat waktu dan memindahkan penyelesaian urusan organisasi dari rumah-rumah pribadi ke kantor resmi. Beliau juga mempelopori gagasan perangko amal untuk mendanai pembangunan sarana ibadah, sekolah, dan rumah sakit. Di bidang sosial, beliau merintis layanan kesehatan di Surabaya untuk menekan angka kematian bayi dan penyakit kelamin, yang menjadi cikal bakal PKU Muhammadiyah.
Warisan Peradaban Islam Masa Kini
Nilai-nilai ketajaman nalar dan keberanian berekspresi yang dicontohkan oleh K.H. Mas Mansur selayaknya menjadi pijakan utama dalam melangkah dan membangun pergerakan peradaban Islam masa kini. Beliau wafat dalam tahanan NICA pada 25 April 1946 setelah tetap berjuang meski dalam keadaan sakit. Atas jasa-jasanya bagi agama dan negara, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1964.
Melalui refleksi atas sejarah beliau, warga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat, diajak untuk terus menghidupkan semangat modernisme Islam yang moderat, cerdas, dan disiplin dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah. (Reksa)








