Thursday, October 8, 2026
  • Login
Muhammadiyah Jawa Barat
  • Kabar Daerah
  • Kolom
  • Hukum Islam
  • Khutbah
  • Tokoh
  • Media
No Result
View All Result
Muhammadiyah Jawa Barat
  • Kabar Daerah
  • Kolom
  • Hukum Islam
  • Khutbah
  • Tokoh
  • Media
No Result
View All Result
Muhammadiyah Jawa Barat
No Result
View All Result
  • Kabar Daerah
  • Kolom
  • Hukum Islam
  • Khutbah
  • Tokoh
  • Media

Home » Dr. Dikdik Dahlan Lukman: Kiai Muhammad Sudja Pelopor Profesionalisasi Pelayanan Umat

Dr. Dikdik Dahlan Lukman: Kiai Muhammad Sudja Pelopor Profesionalisasi Pelayanan Umat

REKSA SANDI PURNAMA by REKSA SANDI PURNAMA
August 11, 2026
in Khutbah, Kolom, Organisasi
Reading Time: 3 mins read
A A

Bandung — Sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui pendidikan dan dakwah. Namun, melalui tradisi pelayanan sosial yang menjadikan agama hadir untuk menjawab persoalan konkret masyarakat.

Salah satu tokoh yang merepresentasikan semangat tersebut adalah Kiai Muhammad Sudja, pelopor Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sekaligus perintis pembenahan pelayanan haji bagi umat Islam Indonesia.

Kisah Kiai Sudja diangkat Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah Bandung sekaligus Wakil Ketua PWM Jawa Barat Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum saat mengisi Gerakan Subuh Mengaji pada Selasa (11/8/2026).

Ia mengajak warga Muhammadiyah melihat Kiai Sudja bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai representasi awal dari gagasan profesionalisasi pelayanan umat.

Kiai Muhammad Sudja lahir di Yogyakarta pada 1882 dan berasal dari keluarga yang mendapatkan pembinaan keagamaan dari KH Ahmad Dahlan.

Dalam perjalanan Muhammadiyah, dia dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan PKO melalui pendirian klinik, rumah yatim, dan berbagai bentuk pelayanan sosial.

“Kalau kita berbicara tentang PKO Muhammadiyah, Kiai Sudja merupakan tokoh yang sangat penting. Dia menunjukkan bahwa ajaran agama tidak cukup hanya dipahami dan disampaikan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada manusia,” ujar Dikdik.

Menurut Dikdik, warisan Kiai Sudja tidak berhenti pada pelayanan sosial. Ia juga memiliki perhatian besar terhadap penyelenggaraan ibadah haji yang pada masa kolonial menghadapi persoalan transportasi, administrasi, keterbatasan informasi, hingga berbagai regulasi.

“Bagi Kiai Sudja, pelayanan haji itu bukan sekadar mengantarkan orang sampai ke Tanah Suci. Ada amanah kemanusiaan di dalamnya. Jemaah harus mendapatkan pengetahuan, pendampingan, keamanan, dan pelayanan yang baik,” katanya.

Pendidikan manasik

Salah satu gagasan penting Kiai Sudja adalah memberikan pendidikan manasik secara komprehensif. Ia menyusun tuntunan haji yang tidak hanya menjelaskan aspek ritual.

Namun, juga persiapan sebelum keberangkatan, perlengkapan, administrasi, dan berbagai persoalan teknis perjalanan.

“Yang menarik dari Kiai Sudja adalah beliau tidak hanya bicara tentang bagaimana orang berhaji secara ritual. Beliau juga memikirkan apa yang harus dipersiapkan sebelum berangkat dan bagaimana perjalanan itu dilakukan,” jelas Dikdik.

Kiai Sudja juga kritis terhadap kecenderungan menjadikan haji sebagai simbol status sosial. Menurut Dikdik, pemikiran tersebut menunjukkan keberanian Kiai Sudja mengembalikan orientasi ibadah kepada substansi dan dampak sosialnya.

“Bagi beliau, orang yang sudah berhaji seharusnya mengalami perubahan dalam kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadi, yang penting bukan sekadar gelarnya, tetapi nilai dan dampak dari ibadah itu sendiri,” ungkapnya.

Infrastruktur haji

Gagasan Kiai Sudja bahkan menyentuh persoalan kemandirian infrastruktur haji. Pada dekade 1920-an hingga 1940-an, Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia pernah mengupayakan kepemilikan kapal sendiri untuk mengangkut jemaah ke Tanah Suci.

“Ini menarik karena pada masa itu sudah muncul pikiran untuk memiliki kapal sendiri. Artinya, umat Islam Indonesia sudah berpikir tentang kemandirian dalam pelayanan haji,” tutur Dikdik.

Meskipun gagasan tersebut belum terealisasi, Dikdik menilai rencana itu memperlihatkan visi jauh ke depan. Kemandirian transportasi dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan keterjangkauan perjalanan jemaah.

“Walaupun kapal itu akhirnya belum terealisasi, gagasan tersebut penting secara historis. Ada kesadaran bahwa pelayanan umat membutuhkan kemandirian,” tambahnya.

Perjuangan Kiai Sudja juga berlangsung melalui advokasi dan diplomasi. Ia terlibat dalam upaya bernegosiasi dengan pemerintah kolonial dan otoritas Arab terkait persoalan perjalanan serta pelayanan haji.

“Kiai Sudja bukan hanya seorang ulama yang mengajarkan manasik. Beliau juga seorang organisator dan negosiator yang memperjuangkan pelayanan yang lebih baik bagi jemaah Indonesia,” kata Dikdik.

Dikdik melihat seluruh kiprah tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni menjadikan agama sebagai kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

Semangat itu tercermin dalam PKO, pelayanan kesehatan, rumah yatim, hingga pelayanan haji. “Kalau kita tarik benang merahnya, PKO, rumah yatim, klinik, pelayanan haji, semuanya berangkat dari satu prinsip bahwa agama harus hadir untuk menyelesaikan persoalan manusia,” jelasnya.

Oleh karena itu, pelayanan haji dalam pemikiran Kiai Sudja tidak semata-mata berkaitan dengan aspek ritual, tetapi juga amanah kemanusiaan.

“Pelayanan haji harus kita lihat sebagai bentuk ihsan. Jemaah itu bukan objek yang dilayani semata, tetapi manusia yang harus dijaga keselamatan, martabat, dan kemaslahatannya,” tegas Dikdik.

Gelar pahlawan nasional

Melihat luasnya kontribusi tersebut, Dikdik menilai Kiai Muhammad Sudja layak mendapatkan perhatian lebih besar dalam sejarah nasional. Ia bahkan mendorong agar kiprah Kiai Sudja dikaji sebagai dasar pengusulan gelar pahlawan nasional.

“Menurut saya, Kiai Muhammad Sudja sangat layak untuk dikaji dan dipertimbangkan sebagai pahlawan nasional. Kepeloporan beliau dalam PKO, pelayanan sosial, literasi haji, dan perjuangan memperbaiki pelayanan jemaah merupakan kontribusi yang tidak kecil,” ujarnya.

Menurut Dikdik, mengangkat kembali sejarah Kiai Sudja bukan sekadar memberikan penghargaan kepada seorang tokoh. Namun, menghadirkan pembelajaran bagi generasi masa kini.

“Yang diwariskan Kiai Sudja kepada kita bukan hanya lembaga, tetapi cara berpikir. Bahwa kalau umat menghadapi masalah, jangan hanya mengeluh. Harus dicari ilmunya, diorganisasi, dicarikan solusinya, lalu diwujudkan menjadi pelayanan,” pungkasnya.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Islam dapat diterjemahkan melalui ilmu, profesionalisme, keberanian berorganisasi, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.***(FA)

Tags: GSMKiaiSudjaMuhammadiyah
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

K.H. Mas Mansur: Arsitek Pencerahan dan Sang “Sapu Kawat” dari Timur

Next Post

Tasyakuran Milad IPM Ke-65 PD IPM Kabupaten Bogor: Usung Semangat Revitalisasi Kuta Udaya Wangsa dan Ruang Gembira Berkarya

Baca Juga

Wakil Ketua PWM Jabar Dorong Lulusan UM Bandung Jadi Cendekiawan Pembawa Perubahan
Kolom

Wakil Ketua PWM Jabar Dorong Lulusan UM Bandung Jadi Cendekiawan Pembawa Perubahan

September 14, 2026
PRM Mulyasari Bahas Makna Maulid Nabi, Kemerdekaan, dan Tanggung Jawab Kebangsaan
Organisasi

PRM Mulyasari Bahas Makna Maulid Nabi, Kemerdekaan, dan Tanggung Jawab Kebangsaan

August 23, 2026
PWM Jabar Terima Wakaf Strategis untuk Penguatan Kader Ulama Muhammadiyah
Kabar UPP

PWM Jabar Terima Wakaf Strategis untuk Penguatan Kader Ulama Muhammadiyah

August 13, 2026
Tasyakuran Milad IPM Ke-65 PD IPM Kabupaten Bogor: Usung Semangat Revitalisasi Kuta Udaya Wangsa dan Ruang Gembira Berkarya
Kabar Ortom

Tasyakuran Milad IPM Ke-65 PD IPM Kabupaten Bogor: Usung Semangat Revitalisasi Kuta Udaya Wangsa dan Ruang Gembira Berkarya

August 13, 2026
K.H. Mas Mansur: Arsitek Pencerahan dan Sang “Sapu Kawat” dari Timur
Organisasi

K.H. Mas Mansur: Arsitek Pencerahan dan Sang “Sapu Kawat” dari Timur

August 11, 2026
LP UMKM Gaspoll Bentuk BTM se-Jawa Barat, Lakukan Studi Tiru ke BTM Pusat Jawa Tengah, BTM Pekalongan dan Pemalang
Organisasi

LP UMKM Gaspoll Bentuk BTM se-Jawa Barat, Lakukan Studi Tiru ke BTM Pusat Jawa Tengah, BTM Pekalongan dan Pemalang

February 11, 2026
Next Post
Tasyakuran Milad IPM Ke-65 PD IPM Kabupaten Bogor: Usung Semangat Revitalisasi Kuta Udaya Wangsa dan Ruang Gembira Berkarya

Tasyakuran Milad IPM Ke-65 PD IPM Kabupaten Bogor: Usung Semangat Revitalisasi Kuta Udaya Wangsa dan Ruang Gembira Berkarya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Majelis

  • Tarjih dan Tajdid
  • Majelis Tabligh
  • Dikdasmen dan PNF
  • Pembinaan Kader dan SDI
  • Pembinaan Kesehatan Umum
  • Peminaan Kesejahteraan Sosial
  • Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata
  • Pendayagunaan Wakaf
  • Pemberdayaan Masyarakat
  • Hukum dan HAM
  • Lingkungan Hidup
  • Pustaka dan Informasi

Lembaga

  • Pengembangan Pesantren
  • Pengembangan Cabang Ranting
  • Kajian dan Kemitraan Strategis
  • Pembinaan dan Pengawasan Keuangan
  • Resiliensi Bencana
  • Amil Zakat, Infak dan Sedekah
  • Pengembang UMKM
  • Hikmah dan Kebijakan Publik
  • Seni Budaya dan Olahraga
  • Dakwah Komunitas
  • Pendamping Halal dan KHT
  • Pembinaan Haji dan Umrah
  • Bantuan Hukum dan Advokasi Publik

Ortom

  • Aisyiyah
  • Pemuda Muhammadiyah
  • Nasyiatul Aisyiyah
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
  • Ikatan Pelajar Muhammadiyah
  • Tapak Suci Putra Muhammadiyah
  • Hizbul Wathon

Daerah

  • PDM Kota Cirebon
  • PDM Kab. Garut
  • PDM Kota Bogor
  • PDM Kab. Sukabumi
  • PDM Kab. Bogor
  • PDM Kab. Bandung
  • PDM Kab. Tasikmalaya
  • PDM Kota Bandung
  • PDM Kab. Indramayu
  • PDM Kab. Ciamis
  • PDM Kab. Kuningan
  • PDM Kab. Majalengka
  • PDM Kab. Sumedang
  • PDM Kab. Karawang
  • PDM Kab. Cianjur
  • PDM Kab. Purwakarta
  • PDM Kota Depok
  • PDM Kab. Subang
  • PDM Kota Cimahi
  • PDM. Kab. Cirebon
  • PDM Kota Banjar
  • PDM Kota Tasikmalaya
  • PDM Kab. Bandung Barat
  • PDM Kab. Bekasi
  • PDM Kota Bekasi
  • PDM Kab. Pangandaran
  • PDM Kota Sukabumi

Kategori

  • Opini
  • Hukum Islam
  • Khutbah
  • Tokoh
  • Media

Kabar Daerah

  • Bandung
  • Bandung Barat
  • Bekasi
  • Bogor
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Cirebon
  • Lihat lainnya

Informasi Lainnya

  • Organisasi
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Kontak

Ekosistem

  • Muhammadiyah ID
  • MASA
  • SatuMu
  • EventMu
  • BukuMu
  • SehatMu
  • KaderMu
  • LabMu

© 2024 Persyarikatan Muhammadiyah

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Organisasi
    • Anggota PWM Jabar 2022-2027
    • Keputusan Musywil PWM Jawa Barat
    • Majelis-Majelis
      • Majelis Tarjih dan Tajdid
      • Majelis Tabligh
      • Majelis Dikdasmen dan PNF
      • Majelis Pembinaan Kader dan SDI
      • Majelis Pembinaan dan Kesehatan Umum
      • Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial
      • Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata
      • Majelis Pendayagunaan Wakaf
      • Majelis Pemberdayaan Masyarakat
      • Majelis Hukum dan HAM
      • Majelis Lingkungan Hidup
      • Majelis Pustaka dan Informasi
    • Lembaga-Lembaga
      • Lembaga Pengembangan Pesantren
      • Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid
      • Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis
      • Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan
      • Lembaga Resiliensi Bencana
      • Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah
      • Lembaga Pengembangan UMKM
      • Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
      • Lembaga Seni Budaya dan Pengembangan Olahraga
      • Lembaga Dakwah Komunitas
      • Lembaga Pemeriksa Halal dan KHT
      • Lembaga Pembinaan Haji dan Umroh
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Kontak
  • Login

© 2024 Persyarikatan Muhammadiyah - Cahaya Islam Berkemajuan.