Dosen AIK sebagai Teladan dan Mubaligh
“Dosen AIK harus menjadi tutor dan mubaligh Muhammadiyah. Mereka adalah sumber nilai dan sumber konsep dengan prinsip harus mampu membaca ruang dakwah,” tegas Prof. Ahmad Dahlan.
Beliau menyoroti pentingnya kecerdasan yang holistik. Seorang pendidik tidak cukup hanya cerdas secara verbal, tetapi juga perlu mengasah kecerdasan personal, emosional, dan spiritual. “Muhammadiyah paham tentang aksioma bahwa kita punya kecerdasan yang berbeda-beda. Tidak hanya verbal, tetapi karena kecerdasan yang berbeda-beda, lalu apa yang membuat tertarik dan termotivasi menjadi dosen AIK? Menurut beliau salah satunya adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan melihat silabus AIK sebagai jalan dakwah,” jelasnya.
Hal ini sejalan dengan prinsip dasar pendidikan bahwa mengajar adalah aktivitas profesional yang memerlukan landasan pengetahuan yang memadai tentang peserta didik, teori belajar, hingga metode yang efektif.
Lima Ciri Utama Islam Berkemajuan
- Berlandaskan Tauhid (Ya’lu wala Yu’la ‘alaih)Setiap gerak dakwah dan pendidikan bermula dan bermuara hanya kepada Allah SWT. Nilai Islam menjadi landasan tertinggi dalam setiap aspek kehidupan (QS. Al-Munafiqun: 8).
- Bersumber pada Al-Qur’an dan SunnahMateri AIK memiliki sandaran yang kokoh berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi agar tidak tersesat (HR. Malik).
- Menghidupkan Ijtihad dan TajdidDosen AIK didorong untuk dinamis dan terus memperbarui pemikiran (ijtihad) agar ajaran Islam tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa melepaskan prinsip dasar.
- Mengembangkan Wasathiyah (Moderasi)Bersikap moderat, fleksibel, dan tidak kaku (saklek) dalam menyikapi perbedaan. Pembelajaran dirancang berkesinambungan dan tidak memberatkan.
- Mewujudkan Rahmat bagi Seluruh Alam (Rahmatan lil ‘alamin)Tujuan akhir pengajaran AIK adalah membentuk generasi mahasiswa yang moderat, inklusif, dan membawa kemanfaatan luas bagi masyarakat (QS. Al-Anbiya: 107).
Mewujudkan Khairah Ummah di Kampus Madani
Penguatan metode pembelajaran serta peneguhan ideologis—seperti program Baitul Arqam—menjadi instrumen penting untuk mencetak akademisi yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki integritas moral dan spiritual yang tinggi.
sumber: muhammadiyahciko.or.id







