Oleh : Ace Somantri
Dialog terbuka antara pemimpin dengan rakyat sebuah keharusan, dekat dan bercengkarama menjadi medium mendekatkan jiwa dan raga sesorang pemimpin dengan rakyat yang dipimin, nilai-nilai emosi seseorang memupuk diri lebih peka dan peduli pada sesama. Banyak bukti histori, pemimpin yang dekat dengan rakyat cenderung amanah dan bertanggungjawab. Keluh kesah rakyat, beban derita serta segala bala harus menjadi catatan jiwa yang digoreskan di dalam raga.
Megahnya kekuasaan hanya dimiliki oleh seorang penguasa atau raja yang diwariskan atau diturunkan atas perpindahan tahta dengan prosesi pemakaian mahkota yang sesuai tata negara yang berlaku pada sebuah negara dan daerahnya. Dengan sistem demokrasi ala mereka yang berada dibelahan dunia barat, sedikit mengubah budaya dan tradisi perpindahan tahta. Atas dasar suara rakyat, sistem pengangkatan tahta raja didahului dengan pemilihan sejatinya lebih dekat dan merasa ada ditengah-tengah lingkungan rakyat. Namun, faktanya selama ini penguasa hanya ada disinggasana yang sulit turun merasakan derita rakyat.
Dalam waktu yang tak terasa, haus dan dahaga rakyat akan sentuhan peka dan peduli penguasa, tiba-tiba hadir ditengah kegelisahan sosok pemimpin daerah yang mengubah suasana beda yang tak terduga. Datang tak diundang, menghampiri, mendekati tanpa basa-basi dan bukan rekayasa tipu daya. Bertanya dan berdialog dengan bahasa rakyat, bahkan dengan tutur kata kalimat tanpa sekat batas seorang pejabat papan atas. Suara lepas tanpa beban, bertanya kata dan berdialog dengan bahasa daerah yang “cawokah” sesekali disela-sela obrolan sering diiringi dengan pengantar kata-kata yang “garihal” sehingga membuat orang tak biasa mendengar terasa sangat tidak nyaman didengar oleh masyarakat elit terpelajar. Namun, bagi rakyat proletar nan jelata tidak menjadi batasan untuk berkata jujur apa adanya, sehingga rakyat saat bicara lebih berani, lugas dan bebas.
Kata sebagian orang, hal yang dilakukannya oleh sosok pemimpin tersebut adalah pencitraan belaka, namun fakta dan realita bicara lain tak sesuai dengan tuduhan. Rakyat jelata, dengan ringkih dan kadang terbata-bata bicara sambil menahan air mata tanda rasa bahagia saat mengetahui yang mengajak bicara adalah pejabat pemilik mahkota daerah tatar sunda. Tak berhenti dalam dialog bicara semata, selanjutnya atas keterbatasan rakyatnya kemudian disantuninya dengan penuh rasa peka dan tanggungjawab. Sikap yang ditunjukan pemimpin tersebut, bukan semata untuk riya, sombong dan takabur ingin terlihat seolah peka. Akan tetapi peristiwa demikian berulang-ulang dalam waktu, tempat dan situasi yang berbeda.
Pertanyaan berikutnya, benarkah itu nyata? bisa saja itu semua by design yang dirancang jauh-jauh hari oleh tim khusus yang dibentuk. Setelah ditelusuri, tindakan berdialog dan bercengkrama dengan masyarakat papa dhuafa sudah sering dilakukan jauh sebelum memiliki mahkota Jawa Barat. Sehingga tuduhan dan sindirian nyinyir yang kurang berdasar akhirnya satu persatu terbantahkan dengan sendirinya seiring waktu berjalan melalui fakta dan data yang terungkap dipermukaan. Konsisten atau istiqomah berkeliling melihat kondisi warga Jawa Barat, baik langsung menyusuri dan menemui satu persatu warga maupun dalam satu kegiatan resmi yang dirancang secara terbuka di setiap kota kabupaten di Jawa Barat.
Perbuatan sosok pemimpin seperti demikian sulit ditemui diera modern, jangankan penguasa negara atau pemimpin pemerintahan. Begitupun tokoh-tokoh pemimpin umat muslim atau cendikiawan muslim, relatif sulit ditemukan yang memiliki sosok peduli dan peka langsung bercengkrama dengan masyarakat papa dhuafa, dan proletar nan jelata. Apalagi harus mengeluarkan harta yang dimilikinya untuk berbagi harta kekayaan, mendekatkan dirinya pun dapat dikatakan sulit terjadi. Beda dengan lain, fakta dan realita sosok pemimpin daerah Jawa Barat bukan hanya dekat dengan rakyat sebagai manusia, namun juga dekat beliau dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Sehingga lembur pakuan menjadi simbol kelestarian alam yang terjaga dan terpelihara.
Kang Dedi Mulyadi atau bapak Aing, merepesentasikan seorang pemimpin yang hadir menjadi bapak warga Jawa Barat. Kehadirannya telah memberi tegukan air dalam kehausan akibat keringnya sentuhan pekanya pemimpin selama ini. Mereka banyak berjibaku bicara program dan anggaran, katanya untuk rakyat dan masyarakat Jawa Barat. Namun, ternyata tidak sedikit program banyak dinikmati segelintir orang dan masyarakat yang dekat dengannya. Rakyat jelata tak berdaya, mereka berjuang bagaimana mempertahankan hidup dari berbagai ancaman hidup. Terik panas matahari tak dirasa, dingin menggigil hingga masuk tulang rusuk, gatal-gatal dan sesak nafas pun menemani hidupnya tak dirasa, baginya yang penting bisa hidup.
Beda jauh dengan pejabat negara kebanyakan dari mereka hidup dalam kemewahan dan kemegahan. Makan dan minum yang enak dan lezat, apapun yang dikehendaki selama dapat dibeli akan diupayakan dengan cara apapun. Gap terlalu jauh antara pelayan rakyat dengan yang dilayani. Ironis, dengan falsafah negara yang memberikan spirit dan amanah menegakkan keadilan sosial seluruh rakyat, hanya ada dalam tumpukan catatan program yang terindikasi kurang tepat sasaran. Sehingga, wajah masyarakat miskin exstrem masih terlihat banyak dan belum tersentuh oleh program pemerintah secara adil dan merata.
Wajar Kang Dedi Mulyadi cukup geram melihat kondisi warga masyarakat fakir dan miskin masih banyak belum terberdayakan dengan baik. Justru, bantuan banyak menyasar ke beberapa kantong-kantong yang masih dapat ditoleransi untuk ditunda terlebih dahulu. Semestinya memprioritaskan warga miskin extreem yang mengancam jiwa dan raganya. Sebagaimana terdengar beberapa hari yang lalu ada anak cacingan parah melampaui batas hingga meninggal akibat dari kemiskinan yang mendera, namun tidak ada yang mengadvokasi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas.
Uluran demi uluran dari kepekaan Kang Dedi Mulyadi, menjadi teladan sekaligus memotivasi siapa saja dan apapun profesinya. Semoga itu menjadi teladan bagi pejabat pemerintah, bidang pendidikan, kesehatan dan layanan sosial kesejahteraan lainnya. Bahwa, sikap pemimpin harus turun kejalan menyusuri, mendata secara akurat kondisi warga masyarakat secara berkala. Hal demikian dilakukan untuk memantau kondisi dan situasi warga terupdate, tidak harus selalu melulu warga miskin extreem mendatangi institusi pemerintah untuk mendapatkan pelayanan. Sesekali, ada rutin terjadwal observasi masyarakat yang sebelumnya terdata sebagai masyarakat fakir miskin.
Sekalipun cukup sulit menemukan dan memiliki pemimpin yang penyayang dan penuh kasih, justru sering sebaliknya banyak pemimpin atau pejabat berkarakter bak tuan majikan dalam rumah tangga yang selalu ingin dilayani. Padahal, pemimpin dan pejabat sebenarnya melayani segala kebutuhan administrasi yang terkait layanan warga masyarakat. Kang Dedi Mulyadi saat ini berupaya keras menjelmakan sosok pemimpin anu wlas asih, peka dan peduli pada rakyat apalagi masyarakat warga jelata. Hampir tidak terhitung angka uang yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan mendesak. Semoga tuduhan dan tudingan pencitraan hanya sebuah tantangan dan rintangan berbuat kebaikan untuk mewujudkan Jawa Barat Istimewa. Aamiin. Wallahu’alam.
Bandung, Agustus 2025







