DEPOK – Jurnalisme kemanusiaan adalah jurnalisme yang berpihak. Hal ini disampaikan Roni Tabroni, penulis buku Jurnalisme untuk Kemanusiaan: Panduan Praktik Jurnalisme Filantropi dalam acara bedah dan diskusi buku yang digelar di Komplek BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Kemendikdasmen, Bojongsari, Depok, Kamis (29/7/2026).
Bagi Roni, jurnalisme bukanlah sekadar pemberitaan tentang suatu kejadian atau fenomena. “Jurnalisme tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan mendorong aksi kemanusiaan. Nilai-nilai jurnalistik seperti verifikasi, akurasi, etika, dan tanggung jawab juga perlu dimiliki oleh para kreator konten di era digital,” ujarnya.
Isu tentang kemanusiaan di media, terang Roni, seharusnya bukan mengkomersialisasi penderitaan, tetapi mengangkat martabat kemanusiaan, perjuangan, dan ketangguhan mereka yang terdampak.
“Fokus utama jurnalisme kemanusiaan adalah mengangkat nilai perjuangan dan ketangguhan individu, sedangkan pihak pemberi bantuan cukup menjadi bagian dari cerita. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat akan terdorong untuk berempati dan menghargai perjuangan seseorang, bukan sekadar merasa iba,” jelas wakil ketua MPI PP Muhammadiyah tersebut.
Terkait dengan media digital, Roni berpendapat bahwa kebebasan berekspresi di media sosial harus diiringi tanggung jawab kemanusiaan. Inilah yang menjadi inti dari gagasan jurnalisme filantropi, yakni sebagai kompas moral. Ini juga bukan sekadar mencari atensi publik, melainkan upaya membangun kepedulian publik dan mendorong perubahan sosial.
Acara ini juga dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Komunikasi dan Media, Ma’ruf, S.Kom. yang memberikan insight dari perspektif kebijakan dan pelaksanaan pendidikan. Selain itu, kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah aktivis pelajar dan mahasiswa, wartawan dari sejumah media massa mainstream, dan para pegiat pendidikan yang turut meramaikan diskusi bedah buku. (soleh)








