Banjar, PDM Kota Banjar – Pengajian Rutin Bulanan yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Banjar menjadi ruang untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus membangun sikap yang lebih terbuka dalam menyikapi perbedaan pendapat. Hal tersebut disampaikan Ketua PDM Kota Banjar, H. Saifuddin, A.Ks., M.Kes., dalam tanggapannya setelah kajian bertema “Hadis Doa Iftitah dalam Tinjauan Tarjih Muhammadiyah”, Ahad (9/8/2026).
Menurut Saifuddin, salah satu fungsi utama kajian keislaman adalah memperkaya wawasan warga Persyarikatan. Penjelasan mengenai beragam tuntunan yang bersumber dari Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa dalam persoalan tertentu terdapat lebih dari satu landasan yang dapat diamalkan. Karena itu, warga Muhammadiyah diharapkan tidak terjebak pada fanatisme terhadap satu pandangan tertentu.
Ia menyoroti masih ditemukannya praktik saling menyalahkan di tengah masyarakat, termasuk dalam persoalan furu’iyah yang sebenarnya memiliki dasar dari hadis atau dalil keagamaan.
“Salah satu fungsi kajian adalah menambah wacana. Tadi dijelaskan banyak tuntunan yang disampaikan oleh Rasulullah, sehingga kita tidak menjadi fanatis terhadap pandangan tertentu. Di lapangan kita sering melihat saling menyalahkan, padahal pembahasannya dalam hal furu’ dan ada dalilnya,” ungkap Saifuddin.
Dalam konteks Muhammadiyah, Saifuddin menjelaskan bahwa warga Persyarikatan memiliki Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah sebagai salah satu rujukan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
Ia kemudian menjelaskan bahwa produk Tarjih Muhammadiyah memiliki beberapa tingkatan. Pertama, Putusan Tarjih, yang memiliki kekuatan mengikat bagi warga Muhammadiyah sebagai pedoman Persyarikatan, meskipun dalam persoalan tertentu warga tetap dapat mengamalkan pendapat lain apabila memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, Fatwa Tarjih, yang pada dasarnya merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan yang disampaikan warga Persyarikatan mengenai persoalan keagamaan. Ketiga, wacana Tarjih, yang berkembang melalui hasil seminar dan kajian keilmuan. Selain itu, terdapat pula anjuran-anjuran yang disampaikan sebagai bentuk tuntunan bagi warga Persyarikatan.
Menurut Saifuddin, pemahaman terhadap tingkatan tersebut penting agar warga Muhammadiyah dapat membedakan antara sesuatu yang merupakan keputusan Persyarikatan, fatwa, hasil wacana keilmuan, maupun anjuran.
Ia juga mengimbau warga Muhammadiyah untuk memiliki dan mempelajari Himpunan Putusan Tarjih, khususnya jilid pertama dan kedua.
“Warga Muhammadiyah sebaiknya memiliki buku HPT, khususnya jilid satu dan dua,” pesannya.
Lebih jauh, Saifuddin menilai kajian seperti ini tidak hanya bermanfaat bagi internal Muhammadiyah, tetapi juga dapat membangun sikap saling menghargai dengan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Perbedaan dalam persoalan ibadah yang memiliki landasan dalil tidak semestinya menjadi alasan untuk menyalahkan satu sama lain.
“Kajian seperti ini membuat kita tidak menyalahkan pendapat dari ormas lain. Yang terpenting, setiap kegiatan yang kita lakukan ada dasarnya,” tegasnya.
Sampaikan Perkembangan Amal Usaha dan Program Persyarikatan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PDM Kota Banjar juga menyampaikan sejumlah perkembangan program Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) kepada peserta pengajian.
Salah satunya terkait rencana kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Saifuddin menyampaikan bahwa beberapa hari sebelumnya dirinya mendapat telepon dari Rektor UMJ yang membicarakan rencana kerja sama antara UMJ dan Pemerintah Kota Banjar. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya bergerak di bidang kesehatan, tetapi juga mencakup bidang pendidikan.
UMJ, menurut Saifuddin, menawarkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru PAUD dan SD yang belum berpendidikan S1, dengan skema beasiswa. Melalui program tersebut, sekolah-sekolah Muhammadiyah yang masih memiliki guru belum berkualifikasi S1 dapat mengikutsertakan gurunya dalam program tersebut dengan pembiayaan dari UMJ.
Saifuddin juga menyampaikan perkembangan penerimaan peserta didik baru di lingkungan sekolah Muhammadiyah. SMK Muhammadiyah Banjar telah memperoleh 88 siswa, sekaligus menjadi sekolah swasta dengan jumlah penerimaan siswa terbanyak pada tahun ini. Sementara itu, SMP Muhammadiyah Banjar memperoleh 14 siswa. SMP Muhammadiyah juga mendapatkan program revitalisasi yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan belajar sekaligus menarik lebih banyak peserta didik pada tahun-tahun berikutnya.
“Mari kita besarkan Muhammadiyah melalui AUM-AUM-nya,” ajaknya.
Ia juga mengingatkan warga Persyarikatan agar kritik dan saran terhadap pengelolaan AUM disampaikan melalui jalur yang tepat dan konstruktif, seperti komunikasi pribadi kepada pihak terkait, bukan disampaikan di dalam grup yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif.
Di bidang kesehatan, Saifuddin menyampaikan bahwa peserta BPJS yang telah terlayani di Klinik PKU Muhammadiyah Kota Banjar telah mencapai sekitar 5.500 peserta. Ia mengajak warga Muhammadiyah yang fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP)-nya belum terdaftar di PKU Muhammadiyah untuk mempertimbangkan memilih PKU Muhammadiyah sebagai bagian dari penguatan AUM kesehatan.
Sementara itu, dalam bidang pendidikan tinggi dan pengembangan AIK, Saifuddin menyampaikan bahwa STIT Muhammadiyah Banjar kini telah menjadi Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) UMTAS.
Perkembangan lainnya juga disampaikan dari lingkungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, termasuk pembangunan TK di Langensari. Sejumlah program majelis juga terus berjalan, di antaranya POSBAKUM setiap Sabtu melalui kerja sama dengan LBH Muhammadiyah.
Majelis Ekonomi PDM Kota Banjar juga terus mengembangkan program, salah satunya di bidang keamanan digital melalui kerja sama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk para pelaku UMKM. Di sisi lain, konsolidasi organisasi melalui majelis-majelis lainnya terus dilakukan, termasuk penjajakan pembentukan Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM).
Menutup penyampaiannya, Saifuddin mengajak seluruh unsur Persyarikatan untuk terus mendukung dan menjalankan berbagai program yang telah dirancang.
“Semoga program-program yang ada bisa kita laksanakan,” harapnya.
Pengajian Rutin Bulanan Majelis Tabligh PDM Kota Banjar tersebut menjadi ruang yang tidak hanya memperkaya pemahaman keislaman warga Persyarikatan, tetapi juga menjadi momentum untuk menyampaikan perkembangan organisasi, memperkuat konsolidasi, serta membangun komitmen bersama dalam mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah dan dakwah di Kota Banjar.
Peliput: Tim Media PDM Kota Banjar







