CIAMIS— Terik matahari menyengat di kawasan perbukitan Dusun Ciputih, Desa Tenggerharja, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di balik rimbunnya hutan, peluh bercucuran dari wajah puluhan warga dan tim Lazismu Jawa Barat yang tertatih menapak tebing licin sembari memikul pipa PVC tebal.
Misi mereka satu: mengalirkan air bersih dari sumber mata air Pegunungan Cimarela hingga ke rumah-rumah warga yang berjarak 3 kilometer. Sejak Selasa (6/10/2026) hingga Rabu (7/10/2026), tim Lazismu Jawa Barat bersama masyarakat setempat berjibaku menembus jalur ekstrem demi merealisasikan proyek pipanisasi air bersih tersebut.
Perjuangan Memikul Pipa Menembus Medan Ekstrem
Jalur menuju sumber mata air Pegunungan Cimarela tidak dapat diakses kendaraan roda empat. Kendaraan pengangkut material terpaksa berhenti di pemukiman terluar, sehingga material harus diangkut secara manual melintasi medan perbukitan terjal.
Pria-pria Dusun Ciputih membahu pipa PVC besar di atas pundak, merayap menaiki tanjakan curam, dan menuruni lembah licin. Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat, Endang Mahbub, mengapresiasi ketangguhan warga di lapangan.
“Perjalanan dari dusun ke lokasi sangat terjal melewati berbagai bukit dan lembah. Namun alhamdulillah, berkat gotong royong dan kebersamaan seluruh warga yang terlibat, pengerjaan pipanisasi dari sumber mata air ini berjalan lancar,” ujar Endang Mahbub di lokasi peninjauan, Rabu (7/10/2026).

Keswadayaan Tanpa Paksaan: Warga Menyiasati Medan Curam
Partisipasi masyarakat dalam proyek pipanisasi air bersih di Ciamis ini lahir murni dari kesadaran bersama. Warga RT 20 RW 10 Dusun Ciputih, Agus, menyampaikan bahwa masyarakat bergotong royong secara sukarela demi kepentingan bersama.
“Gotong royong ini benar-benar sukarela dari warga, tidak ada paksaan sama sekali. Kita kan sudah biasa gotong royong, jadi begitu ada kegiatan seperti ini warga langsung ikut berpartisipasi,” kata Agus.
Agus menjelaskan, selain memikul pipa dari titik bawah, warga juga bekerjasama membabat semak belukar dan mencangkul tanah di lereng curam agar posisi pipa aman.
“Di jalur yang curam, kita buatkan ceruk galian pakai cangkul. Pipanya ditanam supaya aman dan tidak gampang bergeser atau terinjak hewan ternak seperti kerbau yang lewat,” jelasnya.

Kebersamaan Swadaya: Ibu-ibu hingga Perangkat Desa Turun Tangan
Proyek pipanisasi air bersih ini melibatkan seluruh elemen Desa Tenggerharja. Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, hingga tokoh masyarakat turut menyusuri tebing.
Sementara itu, ibu-ibu Dusun Ciputih sigap menyiapkan dan mengantar makanan serta minuman hangat untuk menyokong tenaga para pekerja di area bukit.
Hal ini sebagaimana dilakukan Miah, warga Dusun Ciputih yang turut membantu pekerja dengan menyediakan konsumsi.
“Selama kerja kita masakan konsumsi buat mereka, makanan dan air. Kami masakan kasih makan selama proses kerja. Alhamdullilah dapat biaya dari bu RT untuk diberikan ke yang bekerja. Konsumsi ini diantarkan oleh anak-anak Bu Atih (Warga Desa Tenggerharja) pakai motor ke para pekerja sana,” terangnya.

Sementara Pa Endang mengapresiasi atas adanya gotong royong yang terjaga di antara warga, sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
“Atas amanah para donatur, alhamdulillah semua pihak di Desa Tenggerharja ikut terlibat bergotong royong. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga dan donatur,” tutur Endang.
Jawaban Atas Krisis Air Bersih Akibat Kemarau
Bertahun-tahun warga Dusun Ciputih mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau, terutama ketika fenomena El Nino melanda. Agus menuturkan bahwa kekeringan selalu menjadi masalah tahunan.
“Kalau musim hujan, air dari gunung masih bisa ditampung, tapi kalau kemarau panjang, airnya sangat kecil, bahkan kadang tidak ada sama sekali. Harapannya dengan pipanisasi dari mata air utama ini, saat kemarau kami tidak susah air lagi,” ungkap Agus.
Kondisi ini mendorong warga mengajukan proposal ke Lazismu Jawa Barat untuk mengalirkan air dari mata air Pegunungan Cimarela yang dikenal tidak pernah kering.
Hingga hari kedua pengerjaan pada Rabu (7/10/2026), progres pemasangan pipa telah mencapai 80 persen. Pipa utama ditargetkan tersambung ke penampungan komunal sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga.
Melalui program SAUM (Sanitasi untuk Masyarakat), Lazismu Jawa Barat berharap bantuan akses air bersih ini dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan sanitasi masyarakat secara jangka panjang.
Penulis: Moh Aqbil







