cool hit counter

PWM Jawa Barat - Persyarikatan Muhammadiyah

 PWM Jawa Barat
.: Home > Artikel

Homepage

Isyarat vaksin dalam Al-Qur’an - Luthfia Hastiani Muharram, S.Si., M.Si - Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung

.: Home > Artikel > PWM
29 Juli 2019 08:17 WIB
Dibaca: 195
Penulis :

Isyarat vaksin dalam Al-Qur’an


(Menjawab keraguan vaksin dari sudut pandang Al-Qur’an dan Ilmu pengetahuan)
Oleh: Luthfia Hastiani Muharram, S.Si., M.Si (Departemen Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung)


Era digital 4.0 ini memberi dampak luar biasa pada penyebaran informasi termasuk informasi tentang vaksin. Berdasar laporan The Guardian dalam sebuah artikel menyebutkan bahwa hasil pencarian mengenai vaksin di Facebook menunjukkan lebih banyak propaganda anti-vaksin ketimbang informasi-informasi berbasis fakta. Baca selengkapnya di artikel "Agama dan Media Sosial: Penyebab Orang Jadi Anti-vaksin?", https://tirto.id/ec3x.


Alasan lain yang menguatkan antivaksin adalah alasan agama, mengenai substansi kehalalan vaksin. Gejolak penolakan vaksin dengan alasan kehalalan selalu marak setiap program imunisasi. Seperti halnya tahun 2017-2018 lalu saat Program vaksin MR dilaksanakan serentak, terutama saat menyebar infoormasi bahwa terdapat substansi yang tidak halal pada produk vaksin MR yang digunakan pada program tersebut. Fatwa MUI menetapkan bahwa vaksin MR adalah mubah (boleh) karena dlarurat syar’iyyah (belum ada pengganti yang halal dan suci, serta menimbang madharat yang ditimbulkan kemudian jika target imunisasi tidak tercapai). Meskipun fatwa MUI sudah diterbitkan, banyak kalangan masyarakat dan sekolah (mayoritas muslim) yang menolak program imunisasi karena pertimbangan kepercayaan (agama).

Stigma yang beragam mengenai vaksin muncul di tengah masyarakat. Mulai dari konspirasi melemahkan generasi, kekhawatiran efek samping yang mengakibatkan KIPI (Kejadian ikutan pasca imunisasi), serta aspek kehalalan, membuat masyarakat semakin ragu dan menolak program imunisasi. Stigma yang muncul ini sebaiknya dinetralisasi dengan informasi yang lebih objektif dan relevan.

 

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam sampai akhir zaman, memiliki khasanah yang tidak pernah usang. Intisarinya bagaikan air sumur yang tidak pernah kering oleh teriknya zaman. Setiap permasalahan umat manusia baik individu maupun secara global, pasti ada jawabannya di dalam Al-Qur’an. Bagaimana terkait vaksin ini?.

 

"Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa" (Q.S. Ar-Ruum ayat 54)

 

Saat memahami ayat ini dan mengaitkan dengan situasi kekinian, penulis merasa ayat ini adalah isyarat dalam Al-Qur’an untuk menjawab perihal penyebaran penyakit dan imunisasi. Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa yang kompatible, general dan cocok untuk segala aspek. Al-Qur’an memang tidak menyebutkan detil permasalahan, hikmahnya adalah agar manusia mengoptimalkan potensi akal, hati dan inderanya untuk ‘iqra’ dan berfikir.

 

Dari isyarat ilmiah tersebut kita dapat menguraikan hikmah yang dapat dijadikan alasan memandang pentingnya imunisasi.

 

1. Melindungi masa-masa lemah generasi dari penyakit berbahaya, menuju tujuan mulia Penciptaan manusia.

 

Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”. (Q.S Ali-Imran ayat 110)

 

Takdir yang ditetapkan Allah untuk umat Islam adalah menjadi umat yang terbaik. Maka umat Islam harus berusaha untuk meraihnya: mengungguli umat lainnya dari berbagai aspek (fisik, jiwa, keilmuan, ekonomi). Tujuannya adalah untuk beribadah (menjadi hamba Allah) dan menjadi khalifah (pemimpin) yang membawa misi damai dan rahmat bagi semesta alam.

 

Bayi belum memiliki kekebalan tubuh yang spesifik terhadap suatu penyakit. Manusia kecil yang masih lemah itu dilahirkan di tengah zaman yang sudah marak dengan polusi dan kontaminasi penyakit. Air Susu Ibu adalah modal awal perlindungan bayi, namun ASI tidak dapat spesifik melindungi dari penyakit tertentu. Vaksinasi adalah upaya untuk melindungi bayi dan anak-anak terhadap bakteri dan virus penyebab penyakit yang berpotensi cacat dan mematikan.

 

Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

 

2. Menelusuri ilmu yang membimbing pada keimanan

 

“...Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” (QS.30 ayat 54)

 

Adanya bakteri dan virus penyebab penyakit adalah kehendak Allah. Makhluk mikro itu seperti tidak nampak karena tidak mampu dilihat dan dirasakan wujudnya oleh indera manusia. Keberadaan mereka seperti tidak ada, namun dampaknya sangat hebat hingga menyebabkan penyakit yang mewabah. Ini murni kuasa-NYA. Sebagai contoh, Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Selain itu, efek kepada janin (teratogenik) apabila Rubella menyerang wanita hamil pada trimester pertama. Infeksi Rubella yang terjadi sebelum terjadinya pembuahan dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan. CRS umumnya bermanifestasi sebagai Penyakit Jantung Bawaan, Katarak Mata, bintik-bintik kemerahan (Purpura), Microcephaly (Kepala Kecil) dan Tuli (Kemenkes, 2017).

 

Dalam Al-Qur’an disuratkan bahwa tidak ada penciptaan yang sia-sia. Begitupun dengan penciptaan virus dan bakteri penyebab penyakit

 

"...Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S Ali Imran ayat 191).

 

Pasti selalu ada hikmah dan tujuan dibalik penciptaan. Seorang muslim harus selalu mencari hikmah dan berfikir. Proses berfikir yang dibimbing oleh hidayah akan membawa seorang yang berilmu kepada jalan iman.

 

Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq ayat 12)

 

Dengan mempelajari ilmu Allah, semakin menunduk keimanan kita, semakin taat dan mendekat (taqorrub) kepada sang Pencipta. Lalu bagaimana menyikapi makhluk mikro ini yang menimbulkan wabah dan bahaya bagi generasi?

 

3. Hidup berjamaah dan berdampingan

 

Diantara ‘kehebatan’ makhluk Allah yang renik ini, mereka mudah menginfeksi pada lingkungan yang memiliki kekebalan yang rendah. Diperlukan herd immunity (kekebalan komunitas) yang tinggi untuk memutus rantai penularan penyakit yaitu minimal 95%. Hal ini terlihat dari sejarah penyebaran penyakit berlandaskan fakta ilmiah. Program imunisasi masal yang berhasil, dapat meningkatkan kekebalan komunitas bahkan menghilangkan endemik satu penyakit berbahaya di dunia (eradikasi). Sebagai contoh penyakit polio pada tahun 1988 terjadi 350.000 kasus. Kasus berkurang drastis hingga 42 kasus pada 2014 setelah melalui beberapa program imunisasi dan tahun 2018 ini dicanangkan telah eradikasi dunia (pemusnahan penyakit secara global).

 

Dari hikmah-hikmah yang diurai di atas, masalah penyebaran penyakit ini tidak bisa ditangani oleh orang per orang. Pemerintah sebagai payung masyarakat berkewajiban melindungi warga dan wilayahnya dari ketahanan penyakit. Pemerintah, ilmuwan, tenaga kesehatan, bahkan ulama ikut turun mengawal program imunisasi yang aman bagi masyarakat.

 

Beberapa masih ragu mengenai program vaksin karena dianggap hanya untuk menguntungkan salah satu perusahaan negara produsen vaksin. Isyarat dalam Al-Qur’an dapat membimbing kita untuk memilih mana yang benar dan mana yang tidak. Jalannya adalah ikuti pemimpin dan berpegang pada ilmu (melalui ‘alim ulama). Jika ada berita-berita yang meragukan, cari jawabannya secara utuh dengan ilmu pengetahuan. Ilmuwan dan ulama adalah perantaranya.

 

“..terangkanlah kepadaku berdasar ilmu pengetahuan jika kamu orang yang benar” (QS. Al-An’am: 143)

“..Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikitpun pada kebenaran.” (QS. An-Najm ayat 28)

 

Ilmu mengenai virus, bakteri, imunologi dan ilmu penyebaran penyakit bukan hasil kajian dan penelitian beberapa orang atau satu institusi saja, bukan hasil telaah satu dua tahun. Ilmu pengetahuan ini melalui proses penelitiaan dan telaah puluhan tahun, terbukti kebenarannya (independen) secara global, ini adalah setetes dari lautan ilmu Allah.

 

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

 

Pemerintah yang diwakili oleh ulama dan ilmuwan memberikan keputusan berdasarkan dasar agama dan ilmu pengetahuan, pertimbangan dan kepentingannya untuk kemaslahatan global. Keputusan yang diambil bukan hanya probadi atau kepentingan lingkup kecil.

 

Keraguan masyarakat tentang kehalalan produk termasuk vaksin dijawab oleh pemerintah. Tahun ini mulai diimplementasikan UU JPH (Jaminan Produk Halal) No.33 tahun 2014. Bukan hanya makanan dan minuman saja namun juga barang gunaan, produk farmasi dan produk bioteknologi seperti vaksin harus terjamin kehalalannya. Biofarma sebagai mitra pemerintah dalam penyediaan produk vaksin terus berusaha untuk menghadirkan produk yang halal melalu berbagai riset dan inovasinya. Bulan April 2019 ini salah satu produk vaksin Biofarma yaitu vaksin BCG berhasil mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Hal ini menjadi titik cerah pembuka optimisme halal vaksin. Titik kritis produk vaksin sangat rumit dan kompleks tapi dengan kesungguhan dan berjamaah vaksin halal ini bisa hadir, turut mengawal masa depan generasi yang lebih baik.

 

Semoga tulisan ini menjadi penetral stigma yang berkembang. Semoga kemudian masyarakat dapat menilai setiap situasi dengan fakta dan data, bukan dengan asumsi dan emosi. Kembalikan setiap persoalan kepada Al-Qur’an, bertanya kepada ahli dan telusuri dengan hati dan fikiran yang jernih. Al-Qur’an dan selalu dapat diandalkan untuk mencari jawaban.

 

Dan kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS.An-Nahl ayat 64)

 

(Publish : Amutsysh)


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website